Jumat, 01 Maret 2019

PANGUNRAUN PITU

Banyak yang tidak mengetahui apa itu pangunraun pitu? Karena yang selama ini yang selalu dibicarakan adalah uria pitu. Lalu siapa pangunraun pitu ini, dan apa yang menjadikan pangunraun pitu begitu dihormati bagi bangsa Ma'anyan. 
Begini ceritanya :
Setelah berakhirnya perang besar di Nansarunai tahun 1362, seluruh bangsa Ma'anyan yang tersisa, yang selamat kemudian melanjutkan hidup dibawah kepemimpinan 12 pangunraun yang tidak lain adalah anak-anak dari datu dan dara. Dengan kepemimpinan 12 pangunraun bangsa Ma'anyan yang tersisa kembali hidup dalam damai, keinginan untuk membentuk kerajaan lagi sudah tidak memungkinkan lagi 12 pangunraun pun tidak selamanya mampu menjaga bangsa Ma'anyan yang tersisa itu, maka berkumpullah para pangunraun dan tetua-tetua untuk mencari jalan keluarnya, keputusan yang sangat sulit harus dipilih adalah bangsa Ma'anyan akan memulai perjalanan panjang mengembara kearah yang tak tahu kemana, dengan harapan yaitu kehidupan yang lebih baik. Namun, ditengah kepemimpinan 12 pangunraun, Dengan berat hati 4 pangunraun yaitu :

1. Engko
2. Engkai
3. Liban, dan
4. Bangkas
Mereka memutuskan berangkat, ikut bersama-sama dengan saudara mereka yang kembali ke tane punei lului (madagaskar) dan Patih Raja Muda Panning pergi lagi kedaerah Tanjung Negara dan kemudian setelah terbentuknya perkampungan baru oleh para uria dan patis, Patih Raja Muda Panning pergi ke daerah Hadiwalang atau sekarang disebut desa Bagok (Kecamatan Banua Lima, Kabupaten Barito Timur) dan kemudian pindah lagi ke Tanjung Negara, yang konon Patih Raja Muda Panning kemudian menjadi tokoh lagendaris yang disebut Lambung Mangkurat (kisah ini perlu diteliti lagi supaya tidak ada dusta dalam sejarah). 
Dengan berangkatnya ke 5 pangunraun, maka yang tersisa hanya tujuh pangunraun dan mereka inilah yang disebut PANGUNDRAUN PITU (PANGUNDRAUN TUJUH) yaitu : 
1. Pangeran Jarang,
2. Pangeran Idong
3. Kinurung
4. Anyawungan
5. Limong
6. Masiliawong, dan 
7. Mantir Kaki
ketujuh pangunraun ini lah yang setia menjaga seluruh bangsa Ma'anyan yang tersisa di bekas kerajaan nansarunai hingga sampai waktu para pemimpin baru yang diberi gelar kehormatan yaitu uria dan patis, siap memikul tanggung jawab yang lebih berat dari pangunraun pitu yakni membawa bangsa Ma'anyan ketempat yang lebih baik, bertahun-tahun dibawah didikan para pangunraun pitu, yang dengan setia mengajarkan tentang tata susila, adat istiadat bangsa Ma'anyan dan norma-norma kemasyarakatan yang pada akhirnya akan wajib diwariskan bagi seluruh bangsa Ma'anyan dan hingga waktunya ditempat yang baru. Telah tiba masa yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh bangsa Ma'anyan, yaitu pemimpin baru yang akan membawa mereka ketempat yang baru, dan terpilihlah uria sebanyak 7 orang yang disebut uria pitu dan patis sebanyak empat puluh yang disebut patis epat pulu, mereka inilah yang akan menjadi pemimpin baru, yang siap membawa seluruh bangsa Ma'anyan untuk melalui perjalanan panjang menuju daerah baru yang lebik baik, dengan terpilihnya para pemimpin baru ini, maka seluruh tanggung jawab bangsa Ma'anyan diserahkan oleh pangunraun pitu kepada uria pitu dan patis epat pulu, seketika itu juga pangunraun pitu akhirnya moksa, apa itu moksa? Yaitu pangunraun pitu tidak wafat tetapi langsung kembali ke hiyang piumung jaya pikuluwi. Pangunraun pitu bagi bangsa Ma'anyan sangat di kagumi akan kesalehannya dan ketaatannya kepada bangsa Ma'anyan, tanah air dan Hiyang Piumung Jaya Pikuluwi (Tuhan Yang Maha Esa). Pangunraun pitu menjadi teladan tata susila, adat istiadat dan norma-norma kemasyarakatan. Semua yang diajarkan oleh pangunraun pitu adalah untuk menciptakan adanya rasa aman, damai dan sejahtera dan itu menjadi warisan berharga kepada seluruh keturunan bangsa Ma'anyan sampai saat ini.

DITULIS OLEH : WAHYU HADRIANTO, S.Th

KERAJAAN SARANJANA

Kerajaan SARANJANA adalah Kerajaan suku Ma'anyan yang tidak bisa dipisahkan dari ke-Ma'anyan-an itu sendiri, ia melekat sebagai identitas dengan keabadiannya. bekas Negara SARANJANA itu sangat begitu angker, bahkan orang kota baru, tanah laut,tanah bumbu dan sekitarnya mengeramatkan nya bahkan mereka menyebutkan Saranjana itu ada hubungannya dengan lagenda kerajaan pulau halimun.
inilah kisahnya :
Setelah perpisahan besar, setelah kemenangan dari pihak Ma'anyan saat perang ditanjung negara (cikal bakal kerajaan Banjar), perang balas dendam dan mengusir penguasaan kerajaan Majapahit dari tanah Nansarunai, masyarakat Ma'anyan pun berpisah, dalam perpisahan yang mengharukan itu, Bangsa Ma'anyan terbagi kebeberapa wilayah yaitu :

1. kelompok Ma'anyan Madagaskar yang ikut datang membantu dalam peperangan itu kembali ke Madagaskar beserta dengan masyarakat Ma'anyan dari Nansarunai. masyarakat M'anyan ini ikut bersama dan memutuskan untuk hidup di Madagaskar. dari masyarakat Ma'anyan yang ikut itu, ikut pula empat Pangundraun, yaitu :
a. Engko
b. Engkai
c. Liban, dan
d. Bangkas

2. kelompok masyarakat bangsa Ma'anyan dibawah pemerintahan tujuh pangunraun atau dalam sejarah bangsa Ma'anyan disebut PANGUNDRAUN PITU, yaitu :
a. Pangeran Jarang,
b. Pangeran Idong
c. Kinurung
d. Anyawungan
e. Limong
f. Masiliawong, dan 
g. Mantir Kaki
kelompok masyarakat bangsa Ma'anyan ini pergi kearah pahuluan dan membangun sistem perkampungan yaitu Paju Epat yaitu empat kampung, Kampung Sapuluh yaitu sepuluh kampung dan Banua Lima yaitu lima kampung, sejaran ini kemudian dikenal dengan sebutan uria pitu (uria tujuh) dan patis epatpulu (patis empat puluh), para uria dan patis dipersilahkan untuk membawa bangsa maanyan, kewilayah masing-masing sesuai dengan wilayah yang sudah di tentukan oleh pangundraun pitu (pangundraun tujuh), perpisahan ini kemudiam bangsa maanyan terbagi ke beberapa wilayah, mengikuti petunjuk dari setiap uria dan patis, adapun wilayah-wilayah yang menjadi tempat para uria dan patis membangun sebuah kampung adalah :

a. Uria Nata atau Uria Napulangit (beragama Islam) ke Telang dan Siong.
b. Uria Ganting ke Murutuwu.
c. Uria Mawuyung ke Balawa.
d. Uria Puneh ke Taboyan, Lawangan Bawo.
e. Uria Pulang Giwa ke Kahayan dan Kapuas.
f. Uria Rantau atau Retan ke Sungai Karau.
g. Uria Putera ke Dusun Sahimin.

salah satu dari uria diatas, ia kemudian memilih pergi arah yang sekarang disebut sebagai kabupaten kota baru yang terletak di pulau laut. kelompok masyarakat Ma'anyan ini kemudian menetap di daerah samihim, yang kemudian disebut DAYAK SAMIHIM, dayak samihim sekarang berada di daerah kecamatan pamukan utara, kabupaten kota baru kalimantan selatan. Bangsa Ma'anyan atau DAYAK SAMIHIM ini dipimpin oleh URIA PUTERA. Uria Putera ditugaskan oleh PANGUNDRAUN PITU untuk menjadi pemimpin Kelompok bangsa Ma'anyan yang pergi kearah tanah laut, untuk mencari kehidupan baru, yang tentunya harapan itu adalah , mendapatkan kehidupan yang damai dan sejahtera. setelah menempuh perjalanan panjang dari daerah danau halaman, maka sampailah mereka disebuah daerah dipinggiran laut, disitulah kemudian mereka membuat sebuah permukiman bangsa maanyan baru, yang saat ini ada didaerah SAMIHIM. bangsa Ma'anyan Samihim atau DAYAK SAMIHIM ini lah yang kemudian membangun sebuah kerajaan Ma'anyan yang baru diwilayah pulau laut yang bernama SARANJANA dengan menggunakan hukum adat Ma'anyan.

bangsa Ma'anyan di daerah samihim atau atau yang lebih dikenal dengan sebutan DAYAK SAMIHIM ini dalam perkembangan nya, dibawah pemimpin URIA PUTERA, seperti yang diceritakan diatas, mereka mendirikan sebuah kerajaan yang mereka namakan kerajaan SARANJANA. (Memang perlu penelitian lebih lanjut tentang kerajaan SARANJANA ini supaya tidak ada dusta dalam sejarah. Kerajaan SARANJANA ini berkembang pesat, bahkan ada rumor menceritakan bahwa,  kemegahan kerajaan SARANJANA di tanah laut mampu menandingi kemegahan dari kerajaan BANJAR, yaitu saudara sedarah bangsa Ma'anyan yang beragama Islam. 
    Pada periode yang mengisahkan kehancuran dari kerajaan SARANJANA, ada berbagai versi menceritakan Kehancuran kerajaan SARANJANA ini, salah satunya, ada rumor bahwa kerajaan SARANJANA ini MALIMUNAN ( malimunan adalah ilmu menghilang baik orang maupun kampung, setelah menghilang mereka tetap hidup seperti orang yang hidup normal di dunia manusia namun berada di alam dan dunia yang berbeda atau disebut alam gaib), namun masyarakat kerajaan SARANJANA yang tidak ikut Malimunan bersama kerajaan SARANJANA tetap menjadi manusia yang hidup di dunia manusia, yang sekarang bernama suku MA'ANYAN SAMIHIM atau DAYAK SAMIHIM. suku Ma'anyan samihim atau DAYAK SAMIHIM masih hidup sampai sekarang ini yang berada di kecamatan pamukan utara kabupaten kota baru provinsi Kalimantan Selatan, mereka ini adalah saudara sedarah dari suku Dayak Ma'anyan yang ada didaerah Barito timur, Barito Selatan, suku Marina malagasy di Madagaskar dan suku bangsa banjar yang berada di kalimantan selatan, dan sebuah keniscayaan bahwa kerajaan SARANJANA itu adalah kerajaan bangsa Ma'anyan. sekali lagi bahwa letak kerajaan Saranjana itu berada di kabupaten Kota Baru, Provinsi Kalimantan Selatan.

ditulis oleh : WAHYU HADRIANTO, S.Th

Senin, 25 Februari 2019

PANGKALIMA DIKI KAMATANG ALAI

Masa keemasan kerajaan siong dibawah raja tumenggung suta Ono (tahun 1850 - 1874), menjadikan tanah Ma'anyan tentram, aman dan damai, salah satu cara memberikan rasa aman itu ialah kerajaan siong mendirikan basis kekuatan militer dibeberapa titik, salah satu nya di daerah lampeong (desa lampeong kecamatan pamatang karau kabupaten Barito Timur), di daerah lampeong ini didirikan basis kekuatan militer wilayah karau yang dinamakan benteng lampeong (sekitar tahun 1980 di desa lampeong masih berdiri kokoh tiang bendera kerajaan siong yang terbuat dari kayu Ulin) dimana tugas utama menjamin keamanan diwilayah ini, yang bertugas di benteng itu adalah para pangkalima dari berbagai bantai (kampung). Salah satu pangkalima yang bertugas di benteng itu adalah seorang Pangkalima yang bergelar PANGKALIMA DIKI KAMATANG ALAI, beliau berasal dari bantai PAMANGKA (desa PAMANGKA kecamatan dusun selatan kabupaten Barito Selatan), sebelum beliau menyetujui untuk ikut bergabung dengan kerajaan sotaono, beliau menitipkan sedikit kesaktiannya kedalam sebuah patung bersama-sama dengan pangkalima lainnya dari bantai PAMANGKA, yang kemudian dinamakan TOGA, dengan harapan bantai PAMANGKA dapat dilindungi karena disitu keluarga beliau bermukim, karena beliau sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Sepeninggalan beliau, bantai PAMANGKA aman dan damai. Setelah menitipkan sedikit kesaktian pangkalima Diki kamatang alai menyatakan bergabung dengan Kerajaan siong dibawah kepemimpinan tumenggung suta Ono sebagai raja kerajaan siong, dan pangkalima Diki kamatang alai ditugaskan menjaga benteng di bantai lampeong. Tugas yang begitu berat dijalankan namun tidak menjadi masalah untuk seorang pangkalima, namun suatu hari, dan hari itu menjadi nasib yang na'as bagi seorang pangkalima ini, dimana beliau ditugaskan oleh tumenggung suta ono untuk menangkap perampok yang sangat terkenal sadis dan ganas, pangkalima Diki kamatang alai ini langsung bergerak untuk menangkap perampok itu tadi, tepat didaerah ampah (sekarang kelurahan Ampah kota kecamatan dusun tengah kabupaten Barito timur) beliau berhasil menangkap perampok itu dengan pertarungan yang sengit dan cukup melelahkan. Setelah menangkap perampok tadi, beliau langsung membawa perampok itu menuju benteng di lampeong, namun karena pertarungan yang melelahkan, pangkalima Diki kamatang alai ketiduran, dengan sigap si perampok itu melarikan diri. Setelah pangkalima Diki kamatang alai bangun, beliau terkejut melihat perampok tadi sudah melarikan diri, tersentak dibenak pangkalima Diki kamatang alai jika dia melaporkan kejadian akibat kelalaiannya sehingga perampok yang sangat berbahaya itu melarikan diri, maka beliau bisa di berikan sanksi yang berat oleh raja suta Ono. setelah peristiwa itu, pangkalima Diki kamatang alai pun memutuskan untuk melarikan diri, beliau meninggalkan istri dan anaknya yang ada di bantai pamangka, beliau melarikan diri ke arah bantai Tamiang (sekarang Tamiang Layang kecamatan dusun timur kabupaten Barito Timur) dan masuk sebelah kiri tepat didaerah bantai HAYAPING (desa hayaping kecamatan Awang kabupaten Barito Timur), pangkalima Diki kamatang alai bersembunyi di bantai hayaping itu, di tengah pelariannya tadi di bantai HAYAPING, pangkalima Diki kamatang alai bertemu seorang wanita cantik, dan mereka berdua memutuskan untuk menikah. Setelah pernikahan mereka berdua, tersiar kabar bahwa kerajaan siong mengerahkan seluruh pangkalima untuk mencari seorang pangkalima pemimpin benteng lampeong yang hilang (rumor itu tersiar, sebenarnya bukan untuk menangkap Pangkalima Diki Kamatang Alai, tetapi mencari beliau dengan harapan masih hidup, karena Pangkalima Diki Kamatang Alai berhubungan baik dengan Tumenggung Suta Ono). ketika kabar itu didengar oleh pangkalima Diki kamatang alai, beliau pun kembali melarikan diri membawa istri yang baru dinikahinya, salah satu alasan juga dari beliau menghindar dari kerajaan siong adalah, beliau sudah tidak ingin lagi menjadi seorang pangkalima dibawah naungan kerajaan siong, Pangkalima Diki Kamatang Alai ingin menjadi rakyat biasa, demi menjaga hubungan baik dengan Raja Sota Ono dan Kerajaan Siong, Pangkalima Diki Kamatang Alai memutuskan tetap bersembunyi dan Pangkalima Diki Kamatang Alai beserta istri nya memutuskan untuk hidup menuju bantai Buntok (kota Buntok kecamatan dusun selatan kabupaten Barito Selatan). Waktu begitu cepat berlalu, pangkalima Diki kamatang alai bermukim di Buntok berserta istrinya dengan aman dan tentram, namun selama 15 tahun pernikahan, mereka belum mempunyai keturunan. Suatu ketika sepulang dari ladang, mereka berdua tidak dapat meneruskan perjalanan untuk kembali ke rumah di bantai Buntok, karena hari sudah malam, akhirnya mereka memutuskan untuk bermalam ditepi danau malawen (danau malawen terletak di desa sanggup kecamatan dusun selatan kabupaten Barito Selatan). Saat mereka tidur, mereka berdua bermimpi didatangi sepasang buaya putih, posisinya buaya putih yang laki-laki berada didepan dan buaya putih yang perempuan berada di belakang buaya putih laki-laki, buaya putih perempuan ini terlihat seperti malu untuk menampakan dirinya. Buaya putih laki-laki berkata " cukuplah kami TAMANANG (tidak punya anak), jangan sampai kalian berdua, ini kami berikan anak untuk kalian berdua, jika anak kalian sudah lahir nanti, mandikan di danau malawen ini", dan buaya putih laki-laki ini kemudian mengatakan bahwa mereka adalah JIWATA ATAU RAJA JIWATA penguasa alam bawah yang berada di danau malawen. si perempuan pun terbangun, mendengar si istri bangun pangkalima Diki kamatang alai pun terbangun, dan istrinya pun menceritakan mimpinya barusan, dan begitu juga sang suami terkejut ternyata mimpinya sama seperti yang diceritakan si istri. Setahun setelah kejadian itu, sang istri pun mengandung, dan melahirkan, dan setelah sekitar umur 5 tahun mereka pun membayar nazar untuk memandikan sang anak di danau malawen, sang anak di letakan danau malawen dan bermain di danau malawen, setelah puas bermain ndi danau malawen sang anak pun diangkat kedarat oleh si ayah, namun tanpa disadari batang bambu panjang yang panjang nya kurang lebih 20 meter jatuh ke danau malawen, untung batang bambu itu sempat ditangkap, dari situlah baru diketahui bahwa tempat mandi si anak, batang bambu panjang 20 meter masih belum sampai menyentuh dasar danau malawen. Begitulah tradisi memandikan anak di danau malawen diwariskan turun temurun kepada keturunan PANGKALIMA Diki kamatang alai ini, sampai kepada jaman almarhum kakek saya, waktu itu umur beliau kurang lebih umur 6 tahun dan sepupu satu kali almarhum kakek saya yang masih hidup yang berdomisili di Palangkaraya bernama KAHARANUS RAWIT SULU, yang saat itu berusia 1 tahun, mereka dimandikan di danau malawen, mereka dibiarkan berenang sendiri di danau malawen oleh orang tua mereka, yang menjadi keanehan kakek saya yang berdomisili dipalangkaraya itu walapun umurnya kurang lebih 1 tahun juga dibiarkan mandi di danau malawen. Dan masa mereka inilah diputuskan untuk tradisi memandikan anak di danau malawen di sudahi untuk selama-lamanya dan tubuh mereka diganti dengan patung. Menurut kisah almarhum kakek saya, karena waktu itu beliau sudah anak-anak yang cukup tahu, beliau berkata dia mandi di danau malawen berdiri seperti diatas sebatang pohon dan ranting-ranting pohon terasa dimana-mana tapi ketika mereka sudah diangkat keatas, kedalam danau malawen diperkirakan sekitar 60 meteran. Walaupun tradisi memandikan anak ini sudah tidak dilaksanakan lagi. namun, kisah ini menjadi kisah sejarah keluarga yang tidak bisa dilupakan sampai kapanpun, terlebih dari semuanya itu, bahwa keturunan dari pangkalima Diki kamatang alai adalah pemberian dari JIWATA ATAU RAJA JIWATA ruh suci penguasa dari alam bawah yang berada di danau malawen.
Berdasarkan keturunan dari ayah saya, nenek moyang laki-laki saya berasal dari desa pamangka (kabupaten Barito Selatan) dan nenek moyang perempuan saya berasal dari desa hayaping (kabupaten Barito Timur)
DITULIS OLEH : WAHYU HADRIANTO, S.Th

Minggu, 24 Februari 2019

BADIK WASI KUNING

Badik berwarna kuning keemasan ini, hanya lah barang kuno yang tidak ada artinya sama sekali, itu yang dikatakan mereka yang tidak mau tau dan tidak ingin tau jejak sejarah keluarga.
Sejarah badik berwarna kuning keemasan ini atau yang disebut WASI KUNING ini, adalah sejarah keluarga ku, sejarah panjang dari keturunan SAKA KALAHIEN, badik ini sudah dirawat dan disimpan oleh nenek moyang ku selama beratus-ratus tahun yang lalu, badik ini menjadi saksi perjalanan panjang kisah hidup ku.
Silsilah badik ini :
Nenek moyangku bernama BELINAK DOHONG yang berasal dari desa KALAHIEN (desa kalahien kecamatan dusun selatan kabupaten Barito Selatan), beliau adalah keturunan dari SAKA KALAHIEN. Belinak dohong mempunyai Satu orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan. ketika anak Laki-laki, anak Belinak dohong yang bernama LAKI DOHONG (Datuku) yang saat itu sudah dewasa dan sudah menikah dengan seorang perempuan dari desa Dayu.
Laki Dohong memutuskan untuk meninggalkan desa kalahien dan hidup di desa Dayu (desa Dayu kecamatan karusen janang kabupaten Barito timur) bersama istrinya sampai akhir hayatnya, Laki dohong diwariskan badik kuning keemasan ini yang diberikan oleh sang ayah sebagai "RAPE" atau dalam bahasa Indonesia "Bekal penjaga tubuh", salah satu alasan selain Laki Dohong adalah garis keturunan yang memang mempunyai hak untuk menerima warisan itu untuk merawat dan menjaganya, dua adik perempuan Laki Dohong juga memutuskan untuk ikut sang kakak untuk hidup ke desa Dayu, Laki Dohong mendapatkan mandat dari orang tuanya untuk menjaga kedua adiknya sebaik mungkin. yang pada akhirnya kedua adik perempuan Laki Dohong menikah, yang satu menikah dan menetap hidup di jembatan dua Ampah (ini adalah nenek dari om katek, ibu dari ibu om katek) dan adik perempuan yang satu menikah dan menetap hidup di Tamiang Layang (ini adalah nenek dari dueh Bedung, ibu dari bapak dueh Bedung di Tamiang Layang). Dan adik perempuan Laki Dohong yang satu memutuskan untuk tetap tinggal di desa kalahien (ini adalah nenek om aking, ibu dari bapak om aking "kakah amah aking" di desa kalahien).
Ketika peperangan terjadi di daerah Tamiang Layang (Tamiang layang kecamatan dusun timur kabupaten Barito Timur), PA'ANGKIN (Pa'angkin atau bergelar Matueh Batung adalah tokoh yang sangat dihormati di daerah Tamiang layang, kuburan beliau berada di perbatasan antara kota Tamiang layang dan desa dorong kabupaten Barito timur) meminta Laki Dohong untuk ikut berjuang bersama-sama dalam beberapa peperangan didaerah Tamiang layang, dalam peperangan itu badik kuning keemasan ini tidak pernah lepas dari pinggang Laki Dohong.
Laki Dohong mempunyai anak empat orang laki-laki dan satu orang perempuan, ketika masa perjuangan pembentukan provinsi Kalimantan Tengah, salah satu anak dari Laki Dohong ikut dalam memperjuangkan pembentukan provinsi Kalimantan tengah, ia adalah kakek saya yang bernama Yurmansyah Dohong, Yurmansyah Dohong berjuang bersama sepupu dua kalinya yaitu Cristian Mandulin Simbar dari desa Madara (desa Madara kecamatan dusun selatan kabupaten Barito Selatan), mereka kemudian bergabung dengan semua tokoh dari seluruh penjuru tanah Ma'anyan dan menamakan diri sebagai GMTPS (Gerakan Mandau Talabang Pancasila) serta Cristian Mandulin Simbar sebagai panglima perangnya. Badik kuning keemasan ini kemudian dipinjamkan kepada sang anak yang ikut berperang di dalam rimba Kalimantan tengah - selatan. Badik ini menjadi kawan setia dalam perjuangan pembentukan provinsi Kalimantan tengah. Setelah perjuangan selesai dan provinsi Kalimantan tengah dibentuk, badik ini kemudian dikembalikan kepada sang ayah. Waktu begitu cepat berlalu, cucu dari Laki Dohong anak dari Yurmansyah Dohong sudah besar, yaitu ibu saya sendiri yang bernama Aliane Dohong (nama di rumah adalah ta'i atau Itai. Kalau di desa kandris (desa kandris kecamatan karusen janang kabupaten Barito timur), desa Dayu dan sekitarnya ibu saya dipanggil ta'i, kalau di buntok kalahien ibu saya dipanggil itai. Kakek saya dipanggil dengan nama bapak ta'i atau amah ta'i). sang cucu sudah ingin merantau untuk melanjutkan pendidikan SPG (sekolah pendidikan guru) di buntok (Buntok kecamatan dusun selatan kabupaten Barito Selatan), 3 tahun sekolah SPG di Buntok dan lulus sekolah, sang cucu kemudian di angkat sebagai PNS dan ditempatkan di desa Pendreh (desa Pendreh kecamatan Teweh tengah kabupaten Barito Utara), cerita ibu saya, sang kakek begitu sedih karena akan ditinggalkan oleh sang cucu ketempat yang jauh, namun sebelum sang cucu berangkat, sang kakek menitipkan sebuah pusaka keluarga yaitu badik berwarna kuning keemasan itu, beliau berpesan jangan sampai lepas dari tubuhmu badik ini bahkan jika terjadi perang, sang ibu berkata trauma perang masa lalu masih menjadi momok menakutkan bagi sang kakek, walaupun kata ibu saya saat itu kita sudah merdeka tidak ada lagi peperangan. Namun badik berwarna kuning keemasan itu, harus di bawa dan dijaga jangan sampai hilang.
Ketika saya beranjak dewasa, sebagai ritual seorang laki-laki saya wajib mendapatkan pendidikan wajib militer keluarga untuk membentuk diri disiplin dan mandiri, karena sebagai laki-laki saya harus meninggalkan rumah untuk merantau mancari jati diri, setelah saya selesai melaksanakan pendidikan wajib militer keluarga, saya diwariskan badik berwarna kuning keemasan ini, karena ternyata selama diwariskan ke ibu saya, ibu saya tidak mengetahui cara menggunakannya, karena seorang perempuan tidak diperbolehkan untuk mendapatkan pendidikan wajib militer keluarga. Oleh karena itu badik berwarna kuning keemasan itu belum lah sempurna di tangan ibu saya dan saya diharuskan menyempurnakan nya karena saya sebagai pewaris tunggal badik itu dari ibu saya di jaman ini, penyempurnaan badik itu harus melalui Pendidikan wajib militer keluarga yaitu
"KUNTAW BANGKUI - JAMAK WATU KAPISUNAN - BADIK WASI KUNING"
dengan pendidikan wajib militer keluarga ini saya tahu tehnik menggunakan badik itu, walaupun sangat lah berat pendidikan wajib militer keluarga ini, namun ada hal indah ketika saya dinyatakan lulus dan menjadi laki-laki sejati yang mampu menjaga dan membawa nama baik keluarga dimana pun berada.
Tahun 2004 saya meninggalkan rumah untuk sekolah ke Banjarmasin, suka dan duka saya jalani dengan ikhlas, tabah dan belajar keras di bangku kuliah selama 5 tahun walaupun saya tidak sepintar teman-teman saya dan saya lulus 11 semester (MAPALA = MAhasiswa PAling LAma atau the legend), itu bukan sebuah masalah karena saya berhasil lulus kuliah dan tahun 2010 saya lulus PNS.
Selama kuliah di Banjarmasin, badik berwarna kuning keemasan ini lah penjaga saya, menjaga saya untuk meraih kesuksesan, untuk membanggakan keluarga saya.
itulah silsilah badik berwarna kuning keemasan ini atau bernama WASI KUNING. Bukan mudah menjaga warisan ini, tetapi sebuah kebahagiaan bisa mengetahui sejarah masa lalu.
Pesan yang terkandung dalam pendidikan wajib militer keluarga adalah Sebagai seorang laki-laki sejati haruslah mampu menjaga 3 ujung, yaitu :
1. UJUNG LIDAH.
2. UJUNG KEMALUAN.
3. UJUNG BADIK.
Kejayaan SAKA KALAHIEN masih aku jaga, sama seperti yang dilakukan leluhurku dimasa lalu.
Bersiap-siaplah pewaris selanjutnya,
GIVER WIGAS WAVIEZEL
Di dalam darah mu mengalir darah-darah leluhur mu yang sudah ditulis di atas.
Jika waktu nya sudah sampai dan kamu sudah dewasa, kamu akan mendapatkan pendidikan wajib militer keluarga, kamu akan di didik untuk menjadi layak mewarisi badik berwarna kuning keemasan ini dan menjadi seorang laki-laki sejati yang mampu merantau mencari jati diri untuk kebanggaan keluarga.


Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang duduk

DATU WANGAU "PEMIMPIN KELOMPOK PERAMPOK TANE RUNTUN" (PERANG BUNTOK BAGIAN 2)

Dulu aku malu dengan Rambutku yang putih itu, namun setelah aku mengetahui nenek moyangku siapa, aku menjadi bangga. Walaupun nenek moyang ku hanya menjadi cerita masa lalu namun kisahnya tetap tersimpan rapi sampai ke anak cucunya. 
Datu wangau gelar dari moyangku,, pemimpin dari kelompok  perampok yang bernama tane runtun, kelompok perampok yang paling ditakuti disepanjang aliran sungai barito dari kalahien sampai buntok, pada masa lalu.
Datu Wangau bukan albino (wangau dalam bahasa dayak Ma'anyan berarti Albino) tetapi kata wangau diberi gelar kepada beliau dikarenakan seluruh rambut dan bulu yang ada ditubuhnya berwarna putih semua.
begini ceritanya :
Desa Buntok yang dahulunya merupakan pusat perdagangan besar serta desa buntok memiliki pelabuhan dan dermaga yang ramai didatangi oleh para saudagar kaya dari kerajaan banjar, maupun dari cina dan arab. namun saat itu Desa Buntok (sekarang kota buntok, kecamatan dusun selatan  kabupaten barito selatan) dan sekitarnya menderita kemiskinan, hal ini diakibatkan karena perdagangan tidak lagi terfokus di desa buntok, para saudagar kaya raya sudah tidak tertarik dengan desa Buntok, mereka lebih tertarik berlabuh ke arah muara teweh dan purukcahu, para pedagang baik dari kerajaan banjar, maupun dari cina dan arab hanya singgah sebentar saja di desa Buntok, dan  mereka langsung berangkat ke muara teweh dan purukcahu.
Hal itu dikarenakan rumor yang mengatakan di daerah  Muara teweh dan purukcahu kaya akan emas, emas yang melimpah dan kabarnya disana adalah kampung yang kaya raya selain emas juga dengan hasil bumi, rempah-rempah dan itu menurut para saudagar sangat menguntungkan para mereka untuk saling barter.
Desa buntok sudah ditinggalkan, tidak ada yang tertarik, pelabuhan besar ditepi sungai barito hanya menunggu waktu untuk hancur atau hanya sekedar tempat pelabuhan biasa dengan pasar rakyat atau dalam bahasa dayak Ma'anyan disebut ERAU atau pasar yang hanya berjualan kurang lebih satu jam saja. akibat hal itu tidak ada perkembangan di desa buntok yang ada hanyalah kemiskinan. para pedagang dari perkampungan dayak maanyan, yang datang kedesa buntok untuk menjual hasil bumi, yang berharap hasil bumi mereka dibeli sekarang tidak laku terjual bahkan barter dengan pedagang dari kerajaan banjar yang adalah orang se turunan. Hasil bumi di buntok tidak dilirik lagi oleh para pembeli dan saudagar kaya, mereka lebih memilih melirik emas. oleh hal ini lah penduduk dayak maanyan jatuh miskin, yang pada akhirnya kemiskinan meraja rela di desa buntok dan sekitarnya bahkan di seoantero tanah Ma'anyan, karena di desa buntok saat itu merupakan tempat sentral perputaran ekonomi bagi masyarakat dayak maanyan. 
melihat kejadian tersebut, membuat Sekelompok pemuda berkumpul dan  dengan segera mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah itu, perkumpulan itu di pimpin oleh seorang pemuda yang memiliki rambut putih dan bulu dibadannya pun putih, ia adalah keturunan dari Dohong , dohong adalah orang pertama yang membangun desa buntok ketika masa nomaden dari paju epat untuk mencari tempat baru, yang kemudian bermukim dibuntok dan mendirikan perkampungan hingga sekarang menjadi kota buntok. Ia tampil sebagai pemimpin dalam perkumpulan itu, dan dari perkumpulan itu muncul sebuah kesepakatan, yaitu mereka akan turun untuk merampok dan membunuh siapa saja yang melewati buntok ke arah muara teweh dan purukcaru. dalam perkumpulan itu kemudian disepakati nama untuk kelompok mereka serta sebagai peringatan keras bagi siapapun yang melewati buntok dan nama kelompok ini adalah TANE RUNTUN, dengan pemimpin yang bergelar DATU WANGAU. 
Kelompok perampok tane runtun ini menargetkan sasaran yaitu para pedagang dan saudagar yang datang melewati desa buntok dari kerajaan banjar, cina bahkan arab kearah muara teweh dan purkcahu, tempat mereka merampok di sepnjang sungai barito antara desa buntok dan desa kalahien. 
aski kelompok perampok TANE RUNTUN yang di pimpin oleh Datu Wangau pun dimulai, Ketika pada pedagang dan saudagar berlabuh dengan kapal melewati sungai barito di wilayah desa buntok, Tidak ada yang selamat baik kapal, barang maupun manusia, barang mereka di ambil, kapal mereka dibakar dan ditenggelamkan, dan siapapun yang ada didalam kapal dibunuh semua tanpa meninggalkan sisa kehidupan sedikitpun. begitu seterusnya siapapun yang melewati sungai barito di wilayah desa buntok akan mengalami nasib yang mengerikan.
Rumor tentang sadisnya kelompok perampok yang bernama Tane Runtun ini akhirnya sampai ke raja kerajaan banjar. Raja kerajaan banjar pun mungutus para prajurit kerajaan banjar untuk memburu para perampok serta menangkap hidup atau mati pemimpin kelompok dari kelompok perampok ini. Usaha menjaring angin, para prajurit kerajaan banjar baik menggunakan kapal dan bergerilia masuk kehutan desa buntok tidak ada yang kembali, mereka hilang secara misterius. kelompok perampok tane runtun sudah menjadi berita yang sangat menakutkan bagi para pedagang dan saudagar yang ingin pergi ke arah muara teweh dan purukcahu. melihat keadaan yang begitu rumit, serta akibat dari imbas kelompok tane runtun ini kerajaan banjar mengalami penurunan pajak dari para saudagar, maka dikumpullah para saudagar oleh raja kerajaan banjar untuk mencari solusi dan jalan keluar atas peristiwa perampokan yang mengerikan didaerah aliran sungai barito di desa buntok. Dari hasil pertemuan raja kerajaan banjar dan para saudagar, mereka meminta kepada datu wangau dan para perampok tane runtuh untuk menyudahi perampokan yang sudah membuat rugi para saudagar, baik kerugian harta benda bahkan nyawa. dan mereka meminta untuk berdamai, serta memberikan apapun yang diinginkan oleh datu wangau agar mereka bisa melewati desa buntok. Datu wangau pun menyetujui permintaan raja kerajaan banjar untuk menghentikan perampokan, dengan syarat raja, saudagar dan pedagang harus tetap memperhatikan desa buntok yang adalah pelabuhan perdagangan, dan pusat dari perekonimian masyarakat dayak maanyan, karena desa buntok merupakan tempat mengadu nasib ratusan bahkan ribuan penduduk dayak maanyan, yang datang dari seluruh tanah maanyan untuk berdagang mencari rejeki untuk hidup dan menghidupi keluarga mereka. raja pun menyetujuinya, sejak dari perjanjian damai itu datu wangau berserta kelompok tane runtun menghilang untuk selama-lamanya, desa buntok kembali sejahtera. Perdagangan kembali seperti sedia kala, tak ada lagi kemiskinan di wilayah tanah maanyan. Inilah kisah nenek moyang ku, si datu wangau pemimpin kelompok perampok tane runtun.


Gambar mungkin berisi: 2 orang

KUNTAW BANGKUI LANGKAH SUMBANG ATAU LANGKAH GANJIL


 KUNTAW BANGKUI LANGKAH SUMBANG ATAU LANGKAH GANJIL
kuntau bangkui langkah sumbang atau langkah ganjil memiliki bungaan yang lumayan Sedikit, tidak seperti kuntau betawi liar yang mempunyai bungaan yang banyak, hal ini juga merupakan keunikan dari kuntau bangkui langkah sumbang atau langkah ganjil, karena semua jurusan sudah terangkum dalam bungaan dan kemudian menjadi ciri khas dari jurus kuntau bangkui langkah sumbang atau langkah ganjil. Adapun bungaan dari kuntau bangkui langkah sumbang atau langkah ganjil adalah :
1. Bunga bangkui duduk
2. Bunga Bangkui berdiri
3. Bunga langkah tuntu, dan 
4. Bunga gabungan (bisa juga disebut Bangkui, Betawi dan Saliwa).
dari keempat bunga ini, mempunyai mandatang yang berbeda-beda, mandatang adalah tehnik mendekati musuh.adapun mandatang dari kuntaw bangkui langkah sumbang atau langkah ganjil ini adalah:
1. bunga bangkui duduk, bunga bangkui berdiri dan bunga gabungan  mempunyai mandatang bangkui duduk, dan
2. bunga langkah tuntu mempunyai mandatang tuntu.
Ke empat bungaan diatas, yang kemudian terangkum dalam Jurus pamungkas kuntau bangkui langkah sumbang atau langkah ganjil yang bernama "4 KURUNG 5 PANCAR". 

a. 4 KURUNG 5 PANCAR
Jurus 4 kurung 5 pancar adalah tehnik tertinggi yang harus kuasai, 4 kurung 5 pancar juga disebut jurus yang tak terbatas, jurus ini bertujuan untuk mengurung musuh dalam kurungan kematian, ketika musuh sudah terperangkap didalam kurungan 4 kurung itu, hanya menunggu waktu si bangkui menangkap, melempar, menghempas dan merobek apa saja yang dapat ditangkap di bangkui. Dengan dibantu 5 pancar pukulan semakin menakutkan, 5 pancar atau disebut dengan goncangan bangkui, sejenis hentakan yang bertujuan untuk memperkuat kuda-kuda dan berguna untuk mencabut tuntu. 

b. JURUS TUNTU
Jurus Tuntu yaitu jurus menggunakan bilah kayu yang disebut langkah tuntu, langkah atau jurus ini tercipta ketika pencipta jurus bangkui ini pergi kehutan, ia tanpa sengaja melihat dan menyaksikan dua pasang kera/bangkui yang sedang berkelahi diatas pohon dan seketika kedua bangkui itu turun dan sama-sama mengambil ranting pohon yang jatuh ditanah, posisi ranting itu tertancap ditanah dan yang sebilah tidak tertancap, kedua bangkui pun dengan cepat mengambil ranting masing-masing dengan gaya bangkui dan langsung saling menusuk dan menikam lawan. Terkesima melihat perkelahian kedua bangkui tadi maka diciptakanlah sebuah jurus yang kemudian dinamakan langkah tuntu kuntau bangkui langkah sumbang, namun bukan lagi menggunakan ranting kayu seperti yang dipakai kedua bangkui tadi, tetapi dalam kuntau bangkui langkah sumbang atau langkah ganjil menggunakan sebilah kayu yang sudah dipatahkan, yang mungkin panjangnya sekitar 2 jengkal, bilah kayu itu tadi dipakai sebagai senjata jika saat bertarung tidak ada badik atau sebagai penganti senjata badik untuk menusuk dan menikam musuh. sehingga Tuntu diharapkan saat dipatahkan tadi mempunyai ujung yang tajam, karena gunanya seperti yang sudah dijelaskan yaitu untuk menusuk dan menikam musuh. dalam aturan kuntaw bangkui langkah sumbang, ada cara tersendiri mengambil bilah kayu ini dan tidak bisa sembarangan, cara mengambil tuntu pun sama dengan gaya kedua bangkui tadi mengambil bilah ranting ditanah yang kemudian dinamakan goncangan bangkui. 

c. BADIK WASI KUNING
Dalam perkembangan jurus tuntu ini, tuntu yang kemudian ber- kontekstualisasi dengan senjata khas milik kuntaw bangkui langkah sumbang yaitu badik, ada yang unik dari jenis badik khas milik kuntaw bangkui langkah sumbang atau langkah ganjil ini yaitu badik yang berbentuk belitung dan menjadi senjata keramat yang bernama BADIK WASI KUNING. badik wasi kuning ini menjadi keagungan aliran kuntaw ini.

d. JAMAK WATU KAPISUNAN
Namun dalam belajar kuntaw bangkui langkah sumbang, masih belum sempurna jika belum menerima dudus (Dudus berasal dari bahasa Dayak Ma'anyan yaitu meminta restu dari nenek moyang), dudus ini adalah salah satu bagian rasa hormat kita kepada leluhur karena kita sudah di percayakan mewarisi kejayaan milik nenek moyang kita tadi, yang isinya dengan restu dari nenek moyang kita, semoga kita mendapatkan perlindungan dari Tuhan yang maha esa dimanapun berada, dan itu dinamakan JAMAK WATU KAPISUNAN.
   
kembali pada beberapa penjelasan tentang jurus kuntaw bangkui langkah sumbang, Ada pertanyaan bagaimana jika musuh keluar dari kurungan kematian? Kembali ke penjelasan diatas, 4 kurung 5 pancar adalah jurus yang tak terbatas, jurus ini adalah jurus yang mengikuti keinginan musuh, jika si bangkui sudah pasang kuda-kuda sumbang atau ganjil berarti si bangkui sudah siap bertarung dan siap menyerang, kapan pun sesuka hati bangkui, si bangkui siap bermain, karena permainan hanya mengikuti keinginan musuh, jadi tujuan dari sibangkui yaitu berusaha sedekat mungkin agar musuh dapat ditangkap, dilempar, di hempas dan dirobek hingga remuk dan tak berdaya. permainan ini adalah permainan cepat tanpa basa basi, bahkan tanpa menunggu musuh menyerang si bangkui sudah lebih dahulu menyerang musuh dengan ganas.
Jurus pamungkas dari aliran kuntaw bangkui langkah sumbang atau langkah ganjil ini adalah PUKULAN SAMATI, serta dalam aliran ini juga memiliki kuncian yang bernama KUNCIAN MATI.
begitulah belajar kuntaw bangkui langkah sumbang atau langkah ganjil ini, setelah kita belajar dan dapat menyelesaikan tahapan demi tahapan yaitu KUNTAW BANGKUI - JAMAK WATU KAPISUNAN - BADIK WASI KUNING, maka kita dianggap tamat.
namun yang perlu digaris bawahi, kuntaw ini adalah kuntaw milik keluarga, ilmu beladiri turunan ini yang hanya diwariskan kepada keturunannya saja. namun tidak menjadi masalah jika saya bagikan untuk menambah kasanah tentang kuntaw itu sendiri yang merupakan warisan dari nenek moyang suku dayak, secara khusus Suku Dayak Ma'anyan
DITULIS OLEH : WAHYU HADRIANTO, S.Th

DAMUNG SANAN (BAGIAN 3)

DAMUNG SANAN (Bagian 3)
(LAHIRNYA HUKUM ADAT BAYAR BALI DAMUNG ATAU DENGAN ISTILAH BAYAR BALI JAREK)
Setelah pembunuhan yang dilakukan oleh Damung Sanan terhadap Damung Jarek, maka seluruh tokoh Ma'anyan dari seluruh tanah Ma'anyan baik Paju epat, Banua lima dan kampung sapuluh, mereka berkumpul untuk bermusyawarah, menyelesaikan persoalan serius mengenai perkelahian antara Damung, yang pada akhirnya memutuskan melahirkan suatu hukum adat baru di tanah Ma'anyan. Hal itu Sebagai respon, akibat oleh perkelahian dua Damung yang mengakibatkan salah satu Damung meninggal dunia. Karena Damung itu sendiri adalah orang yang mempunyai kedudukan yang tertinggi dalam aturan bangsa Ma'anyan. Hukum adat baru yang lahir dari musyawarah dan perkumpulan seluruh tokoh Ma'anyan tersebut adalah hukum adat BAYAR BALI DAMUNG ATAU DENGAN ISTILAH BAYAR BALI JAREK. Nama Jarek itu sendiri diambil dari nama Damung Jarek yang meninggal dibunuh oleh Damung Sanan. Hukum adat ini berlaku tidak untuk masyarakat umum dikalangan bangsa Ma'anyan. namun, hukum adat ini dikhususkan untuk para Damung saja, Supaya Damung yang mempunyai kesaktian yang luar biasa dan maha sakti ini tidak membunuh dengan sembarang. Sekali lagi, Hukum adat baru itu bernama "BAYAR BALI DAMUNG ATAU BAYAR BALI JAREK", isi dari hukum adat BAYAR BALI DAMUNG ATAU BAYAR BALI JAREK ini, yaitu "membayar hutang dengan tidak ada putus-putusnya, sampai orang yang melakukan aksi tersebut meninggal dunia, serta jika yang meninggal mempunyai keturunan maka yang dijatuhkan hukuman bayar Bali Damung yang menghidupinya". Dalam hal ini keturunan yang sama yaitu keturunan Damung.
DITULIS OLEH : WAHYU HADRIANTO, S.Th