Ketika acara ijambe dikampung telang yang sekarang masuk kedalam
kecamatan paju epat kabupaten barito timur, baik laki-laki dan
perempuan, orang tua, anak-anak, pemuda, dewasa siapapun yang datang
dari segala penjuru tanah Ma'anyan baik dari Paju epat maupun Banua lima
dan kampung sapuluh dan keluarga besar dari keturunan GUSTI sebagai
keturunan langsung dari kerajaan Banjar dan yang mewakili dari Kerajaan
Banjar beserta seluruh masyarakat Banjar, mereka ikut datang dan ikut
ambil bagian dalam acara ijambe ini, namun ditengah acara ijambe itu,
tidak ada yang mengetahui dan menyadari bahwa mereka sedang di intai
oleh bala seratus atau kayau / pemburu kepala yang sudah siap menyerang.
Seketika teriakan perang dari dalam hutan menggelegar, penyerang
membabi buta, membunuh siapapun yang ada, para pemuda tak mampu melawan,
para pangkalima tak mampu berbuat banyak, mereka merasa lemah dan
pasrah. Teriakan kesakitan mengaung, rintihan kesakitan dimana-mana,
semua hanya ada darah dan terlihat mayat yang tak utuh bergelimpangan
dimana-mana. orang-orang hanya mampu berlari ke dalam balai ijambe untuk
bersembunyi, yang pada akhirnya menunggu giliran untuk dibunuh.
ditengah kemelut yang mengerikan itu, seorang nenek tua renta meminta
untuk diangkat keatas, keatap balai ijambe, semua orang didalam balai
kebingungan atas permintaan nenek itu. nenek itu meminta dengan tertatih
tatih akibat usia yang tak muda lagi, orang-orang didalam balai pun
berusaha untuk membawa nenek tua itu keatap balai ijambe dengan berharap
ada pertolongan, ketika nenek tua itu sampai diatap balai ijambe, ia
pun melantunkan syair :
Tu‘u erang hila kuki nanyu nyiang
lengan,tuu ueh makis,nunuk pakun nunuk,daya puang iyuh keu kuai alang
inre,puang iyuh pinu itung kuai gunyeh malunyangan kurap. tuu budu
dintung aku nganrei watang tenga,dulan nate aku nunup sa pakun nunup.
tuu bangat nyiang lengan aku anak nanyu isa,daya welum ngaraerai tanan
huru sa waleng wakis. tuu bangat udeu-udeu,naun idung anak jarang,daya
puang mari basa aku bungsu lungai erai,puang ngapahapus unru,welumku
ngaraerai. tu‘u bangat udeu-udeu naun unru lungai wahai,daya suwu-suwu
lengan gading sa nini gawing. ware patategei lengen naun ninu pakakait
kingking,nampan mira pakat,mira kia,huyung jangkau.
Arti :
aku terpanggil melagukan kegembiraan ini,karena sudah pasti kemenangan
itu. tak perlu diingat hal yang terjadi,jangan diingat segala hal yang
mengerikan itu. aku tidak dapat berperang,aku hanya menonton kejadian
itu. karena baiknya suaraku,sehingga mereka kagum. aku menyanyi seperti
ini karena ditinggal oleh mereka yang sudah tiada. wahai kalian yang
pemberani,jangan gentar karena suara mandau yang berdesingan,mari
bersatu padu,seia sekata,searah setujuan mencapai kemenangan.
Semua terdiam, keajaiban pun sedikit demi sedikit datang, para pemuda
dan pangkalima berubah menjadi gagah perkasa siap bertarung sampai mati,
semua pun bersama-sama berteriak kencang serta mencabut mandau dari
pinggang dan siap berperang sebagai seorang kasatria, terdengar teriakan
dari pihak musuh, ...BALA MANYAN... yang berarti pasukan dayak ma'anyan
sudah siap berperang. tebasan, bacokan menggila, bala seratus tak mampu
melawan ganasnya para pasukan dayak ma'anyan. Berbalik penyerang
sekarang menjadi yang diserang, para penyerang mencoba mundur melarikan
diri dari kampung telang, namun para kasatria dayak ma'anyan tak akan
melepaskan begitu saja, tepat didaerah JUWUNG SALELEI pembantaian massal
terjadi, tanah yang semula berwarna kuning muda berubah menjadi coklat
oleh darah yang mengalir dari mayat-mayat yang bergelimpangan, dari
seratus pasukan musuh hanya disisakan satu orang untuk hidup untuk
menjadi saksi pertarungan itu. JUWUNG SALELEI, kecamatan paju epat,
kabupaten barito timur nama tempat/daerah pertempuran hebat itu, konon
sampai saat ini di daerah juwung salelei, tanah nya masih berwarna
coklat yang berubah akibat darah oleh pembantaian yang mengerikan
itu.
DITULIS OLEH : WAHYU HADRIANTO, S.Th