Jumat, 09 Maret 2012

TAMBAK BUGAWAN DIME

sangat menarik jika kita ingin lebih dalam mempelajari silsilah dari sejarah bangsa Ma'anyan, salah satu ketertarikan saya yaitu kelompok masyarakat bangsa Ma'anyan Paju Epat. dari pembagian paju epat, banua lima dan kampung sepuluh, wilayah paju epat merupakan tempat berkumpulnya para pembesar serta keturunan dari bangsawan kerajaan Nansarunai. hal ini pula yang membedakan kelompok paju epat dengan kelompok banua lima dan kampung sapuluh. sangat menarik jika kita bisa mengetahui lebih dalam silsilah keturunan Paju Epat ini. Dikalangan suku dayak maanyan paju epat, dimana tradisi upacara ijambe ini masih dipertahankan, maka susunan masyarakatnya tersiri dari beberapa lapisan, yang dapat dianggap selaku klas-klas dalam masyarakat. Dalam tradisi, ditemukan sekurang-kurangnya 7 klas dalam masyarakat ini yang terdiri dari tingkat :
1.   Mangku
2.   Patinggi
3.   Jaksa
4.   Giritan
5.   Singa langgawa
6.   Jarang bayohan
7.   Mangasiau (masiau)
Setiap tingkatan mempunyai tambaknya sendiri. Tambak adalah tempat penyimpanan tulang-tulang setelah melalui proses pembakaran dalam upacara ijambe.
1.   Tambak mamandi di diami oleh klas singa langgawa dan giritan
2.   Tambak tumenggung didiami oleh jarang bayohan
3.   Tambak patinggi rambe didiami oleh masiau dan sebagainya
Disamping adanya tingkat-tingkat tersebut, terdapat pula klas-klas terendah yang disebut putak-walah (klas budak). Mereka ini tidak mempunyai tambak. Tulang-tulang orang klas putak walah di masukan kedalam belanga. Biasanya dalam upacara ijambe, klas inilah yang diwajibkan menjadi penjaga obor atau dalam bahasa maanyan disebut panyingi ramai, semacam alat penerangan yang terbuat dari damar.
Sejak tahun 1963, perbedaan-perbedaan tersebut sudah dihilangkan dan tidak terdapat lagi bermacam-macam tambak dikampung balawa, melainkan semuanya dijadikan dalam satu tambak yang dimanakan TAMBAK BUGAWAN DIME.
Kata bugawan berasal dari kata sangskrit bhagawan yang berarti orang suci atau pendeta, yang didalam bahasa Indonesia kemudian menjadi kata Begawan dan bagawan.
Tambak ini disebut bugawan dime, karena ia merupakan penggabungan dari lima tambak yang sampai saat itu masih utuh dan terpelihara.


Disusun Oleh : Wahyu Hadrianto, S.Th
Sumber : Ukur, Fridolin, Peninjau, Lembaga Penelitian dan Studi — DOL Jakarta, 1997

Kamis, 08 Maret 2012

ASAL MULA PENYEBUTAN HAKEI


Kata Hakei berasal dari kata Ha Kei-Hie Sah yang artinya ”Oh Begitukah” sebagai ucapan atau ungkapan rasa terkejut orang Ma’anyan. Rasa terkejut itu muncul saat terjadi penolakan terhadap sesuatu hal yang dianggap aneh. Kemunculan kata Hakei terjadi sekitar ±600 tahun silam yang ditujukan kepada seorang tokoh Ma’anyan yang sangat dihormati di Nansarunai saat melaksanakan upacara adat Ijambe kepada Dato Burungan. Pada masa pemerintahan Raja Datu Tataran Wulan, Miharaja Pipangkat Amas atau Amah Jarang dikerajaan nansarunai sekitar tahun 1348 – 1358, berdasarkan kesepakatan bersama masyarakat kerajaan nansarunai akan melaksanakan upacara ijambe kepada tokoh maanyan yang sangat dihormati di kerajaan nansarunai yang bernama dato burungan, yaitu tokoh saat pengembaraan masyarakat maanyan dari watang helang ranu, tane ngagang wunrung menuju tane sarunai, taliku ngamang talam. Maka dipanggilah Seluruh masyarakat kerajaan nansarunai beserta anak-anak, cucu-cucu, cicit-cicit serta selurung keturunan dato burungan baik yang ada dikerajaan nansarunai maupun berada diwilayah lain diminta datang kekerajaan nansarunai. Salah satunya tokoh ma’anyan yang diundang bernama Mantir Kaki yang tinggal di Gunung Pikabuan Nyawung, puhaluan nansaramai anak dari Damung Puntara Hala Maleh, Miharaja Kabeh Lalan anrau yang menikah dengan Dara Pangsung Kasa Sura Ibu Turus Riwut, mereka mempunyai dua orang anak yaitu Mantir Kaki merupakan putra sulung dan adik mantir kaki bernama Ratu Nguluh Langit. Sesampainya mantir kaki ke kerajaan nansarunai, ternyata tingkah laku Mantir Kaki berbeda dengan tingkah laku saudara-saudarinya yang lain, ia berpuasa dan mengharamkan makanan Babi. Ketika ditanyakan, ”kenapa gerangan kamu puasa dan mengharamkan memakan babi?” Mantir Kaki mengatakan ”aku haut uma here tuhi (aku sudah ikut orang sebelah). Ketika Mantir Kaki mengatakan hal tersebut terkejutlah ayah, ibu, paman, bibi dan saudara-saudarinya dengan mengatakan ”Ha Kei-Hie Sah. Karena suatu kebiasaan sangat suka memberi gelar kepada seseorang, ketika hal tersebut dianggap aneh dan lucu dan mudah untuk menjadi olokan ketika bertegur sapa, hal itu pula ditunjukan kepada Mantir Kaki. Maka mulai saat itu Mantir Kaki bergelar Hakei.
Sejalan dengan perjalan waktu, kata Hakei ditujukan kepada seseorang yang sifatnya sama dengan perilaku Mantir Kaki yaitu, ketika seseorang berpuasa dan mengharamkan memakan Babi. Namun demikian, karena seseorang itu berpuasa dan mengharamkan memakan Babi sama dengan Mantir Kaki berarti dia juga merupakan saudara orang Ma’anyan.
Saat berdirinya kerajaan Islam pertama ditanah air, yaitu kerajaan Malaka pada tahun 1384, dengan raja bernama Sultan Muhammad Syah, yang sebelum masuk Islam bernama Permaisura. Pada saat ini orang Ma’anyan belum mengetahui Islam itu apa dan siapa. Yang mereka ketahui adalah saudara Mantir Kaki karena mereka berpuasa dan mengharamkan memakan Babi. Bukti pengaruh Malaka sampai ketanah Ma’anyan adalah saat orang Malaka datang berdagang berjual buah nenas ke kerajaan nansarunai. Hingga muncul kebiasaan oleh orang Ma’anyan mengatakan buah nenas tersebut adalah “wua Malaka” yang berarti buah yang berasal dari Malaka. Pengaruh agama Islam di tanah air meluas dan dikenal sebagai agama baru.  Tetapi pengaruh agama Islam ini tidak terlalu kuat dikerajaan Nansarunai yang dibawa oleh para pedagang yang berasal dari Malaka. Pada tahun 1520-an ketika Negara Dipa di tanjung negara berubah menjadi Kerajaan Banjar dengan menyatakan bahwa agama Islam adalah agama resmi kerajaan dimana seluruh kerajaan menganut Agama Islam, maka mulai saat itu orang Ma’anyan mengetahui agama Islam. Sejak itu mereka juga mengetahui bahwa agama Mantir Kaki dahulu adalah agama Islam. Jadi, kata Hakei oleh seluruh orang Ma’anyan Kampung Sepuluh, Banua Lima dan Paju Epat ditujukan kepada seseorang yang beragama Islam yang berarti saudara orang Ma’anyan karena mereka adalah Utus Gawe (keturunan) dari Mantir Kaki. Orang Ma’anyan yang masuk agama Islam disebut Bahakei.
Tanuhien Mantir Kaki
Hingka Gunung Pikabuan Nyawung, puhaluan nansaramai. Gunung pikabuan judi, pikunyalan ningkah utang. Lemung wua nakatapi, mait eui ngungkung rawen, aluh-aluh gunung sangarasi anem watu suei malem. Lemung wua nakatapi mait uei ngungkung wakat, aluh-aluh gunung sangarasi anem watu suai pangkat
Balai adu nyawung, jaru sipat nansaramai. Balai adu judi jaru sipat ngulang tali. Hang iwa batang inupian rayu rantau inungkaran. Inapian batang alur wunsan, umak nyarangan rakun. Uneng tantamau widang kuning, karunrun paying hijau. Kumpai amas lalumet, banta mirah laleku. Minau hi kaki, ratu ngaluh langit. Itawua hiring, umpe jumpun nikalawit, nulu damung tanang gasinsingan, kaki nete buhur langit. Nulu damung tanang garisingan, kaki nete buhur langit. Nulu damung nyamalingan ranu, dua basa wayung rirung. Kahenrep kakau jengah bunan, balimpau puru lamunganyan. Nulu damung nyalalingan apui dua dasa inrang nyala. Ekat karakit panruwian jatuhu kasia tutung pangenken riwu. Nawu dumung nyamalingan tawu, dua basa ngansa’isau. Ekat pakai nuwu batang luau langit ngasa’isau punsan balai anrau. Katuwu lubuk hanu raga, kasa’isau ulak sampan agung. Agung purun galis kemampung ganing raya jamaku mibul. Bangka unru galis makumampung, gusi wulan jarah makumibul. Nulu damung nyamalingan riwut. Dua basa tumpuk luwung kahuar putut watantangun, kahika minggar. Inau kaki bapuasa, turun awing bakulami. Burung lalu tiup, burung lalu mati. Angin lalu tiup, angin lalu pagat. Seratus mati setahun, seribu pisis hilang sabintang. Satahun kada makan nasi, sebulan kada nungkas sajang. Makan nasi surung-surung baras kukus anak bujangan
Lalauahan hati duyung, lalauhan iwek sada. Kakumur banyu nyiur isagigi garagan bintang minum banyu dai buluh, balalu katumpuk marajam pahit. Batudung nyiru, bapuhara lasung, batihang bajarujak
Habang bibir kaki bapuasa, hirang gigi awing bakumali. Nipis awak kaki bapuasa, hayur tunang awing bakumali. Baparang pujar, jaya bapangkat wasi, bisa baduduk dijuntai waringin basaning dihalun munala, bisa bapuharu lasunng batihang bararujak. Bisa badagang diatas banyu, bisa bapurahu lasung batihang bararujak bisa badagang diatas banyu bakasisanditangan wayuh rirung. Babini anak diwata, baksisan bungsu tiamulau. Bakain haminang laut, babat banang gilingan jawa. Balaung daluang abang, tamping dara dairing kuning
Babaju nang ngunang-ngunang, lama jawa luyuh langit. Balaung dalaring kuning tapung dara dalaring hijau. Bakaris samulaka rupa munyan hanya muda. Bawawar benang maker jawa. Batitian dimakpanyang. Bajalan diatas ulak pasang lanung
Bisa badagang diatas gunung, balayar dumi tangah meru. Babini anak bujang, bakasisan bungsu baru mana. Batitian di sihal maling bajalanan gajah malumpat. Bakian tingkah wawayangan, babat banang linang ngari. Bakaris batara Gaguyangan, warangka kayu si’akar bahar, bakapala amas bungkal katinawung, parimata amas surai, amas surai tikar bangung
Bisa badagang diatas langit, belayar demi tangah wulan. Babini anak bidadari. Baksisan bunsu singalahing. Bakain haminang langit babat banang gilingan wulan. Bakaris kansir saritan, warangka kayu si’akar bahar
Bisa badagang diatas balai, balayar tangah jaru. Babini bintang pinutiri, bakasisan mena raden galung. Nulu damung pambuka pintu, muji Raden Pangurak lawang, pambuka pintu agung, pangurak lawang ganing. Baduduk manyingang tanah badiri mangkap rakun. Nulu damung kaki mangkat lalunguh wulan welum. Nulu damung nyamalingan riwut, dua basa tumpuk luwung, katepuraan pusi gansa, kasi’eh jangkeng wilas mingar
Batandik baigal kaki bapuasa, saindak sawangan awang bakumali. Mandangar bunyi agung ganing, ninak papan mingar.
Disusun Oleh : Wahyu Hadrianto, S.Th



Selasa, 06 Maret 2012

PAJU EPAT, BANUA LIMA DAN KAMPUNG SEPULUH

Setelah kekalahan kerajaan Nansarunai pada tahun 1358, ke dua belas pangunraun bersama-sama seluruh masyarakat Nansarunai yang masih hidup dengan dibantu oleh saudara orang Ma’anyan dari Madagaskar bertekad membalas kekalahan kerajaan Nansarunai. Target penyerangan tersebut adalah Armada Majapahit di daerah Tanjung Negara tahun 1362. Dalam serangan balasan tersebut, berakhir dengan kekalahan pihak Majapahit dan menewaskan banyak prajurit Majapahit beserta Laksamana Nala selaku panglima perang Majapahit.
Akibat dari kekalahan pihak Majapahit yang menewaskan panglima perang Majapahit di wilayah Tanjung Negara, dengan cepat Patih Gajah Mada mengirim Mpu Jatmika ke tanah Ma'anyan yang bertugas untuk memperhatikan pergerakkan masyarakat Ma’anyan dan menjaga keutuhan Kerajaan Majapahit di tanah Ma'anyan. Untuk memudahkan tugas tersebut, Mpu Jatmika mendirikan dua kerajaan baru dibekas Kerajaan Nansarunai yang di beri nama Kerajaan Daha dan Kerajaan Kuripan, sebagai bagian kerajaan Majapahit di tanah Ma'anyan.
Pengaruh dari kedua kerajaan baru ini membagi masyarakat Ma’anyan kedalam tiga golongan secara khusus dari segi agama dan bahasa sebagai berikut :
  1.  Golongan masyarakat yang memeluk agama Hindu Syiwa sejak tahun 1358, dan berpindah memakai bahas Melayu.
  2. Golongan masyarakat yang juga memeluk agama Hindu Syiwa, tetapi masih tetap bertahan mempergunakan bahasa Ma’anyan  kuno.
  3. Golongan masyarakat yang masih menganut kepercayaan terhadap roh Nenek Moyang dan tetap memakai bahasa pengantar dalam bahasa Ma’anyan atau bahasa Nansarunai. Dua kerajaan tersebut tidak mendapatkan gangguan dari masyarakat Ma’anyan, secara khusus dari golongan masyarakat ketiga ini.
Selanjutnya, Mpu Jatmika mendirikan lagi sebuah kerajaan di bekas armada Majapahit di tanjung negara yaitu Negara Dipa. Ketiga kerajaan ini membawa sebuah agama baru yaitu agama Hindu Syiwa dan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi kerajaan. Tetapi masuknya agama Hindu Syiwa tersebut tidak mengubah bentuk balai adat Ijambe masyarakat Dayak Ma’anyan.
Semakin hari pengaruh ketiga kerajaan Hindu Syiwa tersebut semakin luas sehingga membuat bangsa Ma’anyan terpojok ke daerah bangi sampa tulen dan membangun sebuah kampung baru di wilayah Bangi Sampa Tulen, yang terkenal dengan sebutan NANSARUNAI WAO atau Waruga Lewu Hante. Pembangunan di daerah Bangi Sampa Tulen ini diharapkan dapat menciptakan keadaan yang lebih damai serta sejahtera bagi masyarakat Ma’anyan. Namun karena terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan NANSARUNAI WAO di wilayah Bangi Sampa Tulen, masyarakat Ma’anyan kembali kacau balau. Kemegahan dari NANSARUNAI WAO di wilayah Bangi Sampa Tulen harus musnah di lalap api sekitar tahun 1389 untuk selama-lamanya.
Setelah NANSARUNAI WAO di wilayah Bangi Sampa Tulen terbakar habis pada tahun 1389, berkumpulah para Patih dan Uria untuk mengambil langkah selanjutnya, agar masyarakat Ma’anyan yang selamat dapat memperolah kehidupan yang damai, aman dan sejahtera. Dimulailah perjalanan pengembaraan dari Gunung Rumung, Banua Lawas, Bakumpai Lawas, Wamman Sabuku, Labuhan Amas, Sandi Agung, Sandi Laras, Kupang Sunnung, Danau Kien, setelah itu ke Baras Ruku dan hingga ke Danau Halaman.
Di kampung Danau Halaman ini, para Uria dan Patis dikumpulkan oleh PANGUNDRAUN PITU dibawah nasehat seorang tokoh Bangsa Ma'anyan serta kepala adat bangsa Ma'anyan yaitu Patis Mawonto. Kepada para Uria dengan dibantu oleh para Patis diperintahkan untuk membawa hukum adat tentang kehidupan dan hukum adat tentang kematian yang sudah disusun secara lengkap di Nansarunai. Mereka diperintahkan untuk menata kehidupan baru di wilayah masing-masing berdasarkan hukum adat Nansarunai. Pada periode ini terjadilah perpisahan besar  dalam Masyarakat Ma’anyan yang terkenal dengan sebutan Uria Pitu dan Patis Epat Polo (Uria Tujuh dan Patis Empatpuluh). Setiap Uria pergi ketempat baru dengan membawa unsur hukum adat Nansarunai :
    1. Uria Nata atau Uria Napulangit (beragama Islam) ke Telang dan Siong.
     2.   Uria Ganting  ke Murutuwu.
     3.   Uria Mawuyung ke Balawa.
     4.   Uria Puneh ke Taboyan, Lawangan Bawo.
     5.   Uria Pulang Giwa ke Kahayan dan Kapuas.
     6.   Uria Rantau atau Retan ke Sungai Karau.
     7.   Uria Putera ke Dusun Sahimin.
Sesudah perpisahan besar para Uria dan Patis, lahir lagi dua uria di wilayah Bangi Sampa Tulen, yaitu :
        1. Uria Biring membawa hukum adat ke daerah Lasi Muda/Dayu
  2.  Uria Renn’a membawa hukum adat ke daerah Patai Suku Hawa.
Perpisahan besar ini membagi masyarakat Ma’anyan ke dalam tiga perkampungan utama dengan tetap menggunakan hukum adat Nansarunai, yaitu :
  1.     Kelompok pertama menamakan kelompok mereka Banua Lima yang sebenarnya adalah tumpuk dime. Setelah masuknya pengaruh melayu, wilayah tumpuk dime berubah cara penyebutannya menjadi banua lima yang dihuni oleh para politisi yang dianggap mampu bernegosiasi. Banua lima terdiri dari Jangkung, Hadiwalang, Uwai, Pulau Padang, Kayunringan.
  2.    Kelompok ke dua menamakan kelompok mereka Kampung Sepuluh yang sebenarnya adalah tumpuk sepuluh. Perubahan kata ini dipengaruhi oleh lafal melayu dari kata tumpuk yang sama artinya dengan kampung sehingga sebutan yang lebih dikenal dengan sebutan kampung sepuluh yang dihuni oleh para prajurit dan kasatria kerajaan nansarunai sebagai benteng . Posisi kampung sepuluh melengkung seperti setengah lingkaran membentuk seperti benteng  untuk menjaga paju epat serta siap berperang ketika sewaktu-waktu musuh menyerang. Kampung sepuluh terdiri dari Murung Kliwen, Pimpingen, Mungsit, Harara, Patai, Lasi Muda / Dayu, Sarabon, Pagar, Tangkan, Bangi Sampa Tulen.
 3.  Kelompok ketiga menamakan kelompok mereka Paju Epat juga dipengaruhi oleh lafal melayu jika diterjemahkan sebutan paju adalah kelompok, sebutan epat  adalah empat. Jadi, paju epat berarti kelompok empat yang dihuni oleh para tokoh-tokoh, para pejabat dan keturunan dari Raja-Raja kerajaan Nansarunai. Paju epat terdiri dari Telang, Siong, Balawa, Murutuwu. Kelompok ini menghendaki upacara tentang duka cita adalah ijambe
Maksud PANGUNDRAUN PITU dengan dibantu para Uria dan para Patis tidak meneruskan lagi bentuk kerajaan karena takut terjadi lagi peperangan dengan kerajaan lain, secara khusus dengan pihak majapahit yang belum tentu dimenangkan oleh pihak bangsa Ma'anyan, sedangkan pertolongan tidak bisa diharapkan dari orang-orang maanyan madagaskar seperti saat perang periode kedua tahun 1362. Oleh sebab itu kepada seluruh masyarakat bangsa Ma’anyan dipersilahkan mencari tempat yang baru sesuai dengan pembagian wilayah-wilayah baru yang sudah ditentukan oleh para Uria dan Patis. Pembagian wilayah-wilayah baru sebagai tempat perkampungan bangsa Ma’anyan ini yang dikenal dengan nama Banua Lima,  Kampung  Sepuluh  dan Paju Epat. Terbaginya tiga wilayah dari perkampungan Dayak Ma’anyan yang baru ini, sebenanya adalah sebuah taktik perang serta strategi penyelamatan untuk bangsa Ma'anyan
1. Banua Lima adalah masyarakat Dayak Ma’anyan yang dianggap mampu berpolitik dan orang-orang pintar. Banua lima yang dihuni oleh para politisi dikarenakan menurut perhitungan PANGUDRAUN PITU dibantu uria pitu, patis epat pulu, kepala adat mawonto serta para tetua bahwa musuh kemungkinan akan menyerang melalui banua lima terlebih dahulu, karena wilayah banua lima secara langsung berdampingan dengan tiga kerajaan besar yaitu, negara dipa, kerajaan daha dan kerajaan kuripan yang merupakan bagian kerajaan majapahit di tanah Ma'anyan dibawah kepemimpinan mpu jatmika. 
2. ketika musuh datang menyerang Banua Lima, Banua Lima bertugas untuk bernegosiasi secara  politik untuk menahan kekuatan musuh. Namun, ketika Banua Lima sudah tidak mampu lagi menahan kekuatan lawan dengan cara berpolitik, maka musuh langsung akan berhadapan dengan sepuluh kampung yang dihuni oleh para prajurit dan kasatria Nansarunai yang sakti dan siap bertempur. 
3. ketika Kampung Sepuluh dan Banua Lima sudah tidak mampu lagi menahan serangan dari musuh, tugas Paju Epat sebagai penyelamat, dengan membawa masyarakat bangsa Ma’anyan yang masih hidup untuk melarikan diri melalui sungai telang menuju  sungai Barito. Karena itu lah wilayah Paju Epat sangat berdekatan dengan sungai barito.
Taktik perang serta strategi penyelamatan yang telah direncanakan oleh PANGUNDRAUN PITU dibantu uria pitu, patis epat pulu, kepala adat mawonto serta para tetua agar masyarakat bangsa Ma'anyan yang sudah kehabisan segala-galanya oleh dampak perang dalam beberapa periode yang menghancurkan segenap kehidupan masyarakat bangsa Ma'anyan  di Nansarunai serta memaksa mereka tersudut kepedalaman agar masyarakat Ma’anyan dapat memperolah kehidupan yang damai, aman dan sejahtera . Karena, hasil perundingan PANGUDRAUN PITU dibantu uria pitu, patis epat pulu, kepala adat mawonto serta para tetua di kampung Danau Halaman, menyatakan bahwa masyarakat bangsa Ma;anyan sudah terdesak dan tidak ada lagi tempat pelarian, sekarang hanya ada dua pilihan, yaitu :

1. Berperang sampai tetes darah penghabisan, atau
2. Menyelamatkan diri kearah yang tidak diketahui rimbanya. 

Dengan satu tekad, keturunan Nansaruani harus tetap hidup serta kejayaannya tidak boleh hilang untuk selama-lamanya. Inilah yang terjadi dalam sejarah Dayak Maanyan, perasaan saling menjaga, melindungi dan persaudaraan menjadi dasar utama dalam kehidupan bersama. Harapan agar masyarakat Ma’anyan dapat memperoleh kehidupan yang damai, aman dan sejahtera dapat dijaga sampai sekarang banua lima, kampung sepuluh dan paju epat tetap bertahan sebagai tiga wilayah besar masyarakat maanyan. Kerajaan nansarunai memang sudah hancur, hilang ditelan jaman. Kerajaan Nansarunai sekarang hanya tinggal sejarah yang kadang selalu orang pertanyakan, apakah memang benar kerajaan Nansarunai itu ada? Jawaban dari pertanyaan ini yang bisa saya berikan ”Nansarunai masih ada, tetap berdiri kokoh bersama kejayaannya di dalam setiap hati dan seluruh kehidupan masyarakat maanyan dimanapun berada".

Bukti sekarang bahwa sejarah ini benar adanya, dapat kita lihat melalui cara berbicaranya atau logat bicara mereka yang berbeda, yaitu :
1. banua lima adalah kelompok para politisi terlihat dari tata cara bahasa kelompok ini sangat halus.
2. kampung sepuluh adalah kelompok para prajurit terlihat dari tata bahasanya agak kasar.
3. paju epat adalah kelompok yang dihuni oleh para tokoh-tokoh, para pejabat dan keturunan dari Raja-Raja kerajaan Nansarunai terlihat dari tata bahasanya yang halus, tegas dan berwibawa yang masih memperlihatkan tata cara tegur sapa para pejabat kerajaan.

keterangan gambar :
1. Berwarna merah adalah PAJU EPAT
2. Berwarna kuning adalah KAMPUNG SAPULUH
3. Berwarna hijau adalah BANUA LIMA
4. Tanda panah berwarna merah adalah perkiraaan arah musuh akan datang menyerang bangsa Ma'anyan, karena di daerah itu adalah daerah strategis berdekatan dengan tiga kerajaan besar yaitu KERAJAAN DAHA, KERAJAAN KURIPAN DAN NEGARA DIPA.
5. Tanda panah berwarna hijau adalah arah yang merupakan tempat penyelamatan bangsa Ma'anyan melalui sungai Telang menuju sungai Barito jika terjadi Penyerangan / perang dengan tiga kerajaan besar yaitu KERAJAAN DAHA, KERAJAAN KURIPAN DAN NEGARA DIPA. arah itu menunjukan sungai Barito sebagai tempat penyelamatan.

Disusun Oleh : Wahyu Hadrianto, S.Th







Senin, 05 Maret 2012

ASAL MULA PENYEBUTAN DAYU (DESA DAYU)


ASAL MULA PENYEBUTAN DAYU
 (DESA DAYU)
Kampung lasi muda merupakan wilayah yang dipimpin oleh seorang damung dengan sistem pemerintahan kerajaan. Pada waktu damung yang memerintah adalah Damung Tupu, dalam masa tua nya ia digantikan oleh putranya yang bernama Damung Raya. Pada waktu itu di kampung lasi muda yaitu di perkebunan istana raja berdiri sebuah pohon durian yang sedang berbuah dan saat itu buah durian tersebut hanya tersisa  satu buah, karena begitu inginnya damung memakan buah durian tersebut sehingga  pohon durian itu dijaga dengan sangat ketat oleh para prajurit. Jika ada yang berani mencuri maka akan dihukum.
Pada saat itu ada seseorang yang bernama MASORO, ia mempunyai rambut yang sangat panjang, lincah dan cerdik. Pada suatu hari ketika para prajurit sedang lengah , masoro berhasil masuk kedalam perkebunan istana raja dan mengambil buah durian dan dengan lahap memakan buah durian tersebut, karena kekenyangan masoro ingin membuang hajat dan untuk menghilangkan jejak,  mesoro memasang tiap biji-biji durian dengan hasil buang hajatnya. Lalu mengikat durian tersebut dengan rambutnya yang panjang dan pergi dari perkebunan istana raja.
Sentak berita bahwa buah durian raja telah jatuh ketanah serta diketahui ada kejanggalan dari buah durian itu karena buah tersebut diikat dengan rambut dan tercium aroma yang tidak sedap sedang kan sangat aneh buah durian yang seharusnya harum tetapi berbau aneh, sampai lah kabar tersebut ke istana. Maka dibawalah buah durian tersebut ke istana, setelah diteliti di istana, buah durian itu sudah dimakan seseorang. Dikumpulan seluruh penduduk lasi muda namun tidak seorang pun yang mengaku, dari penelitian akan kejanggalan dari buah durian itu, ditemukan bahwa buah durian itu diikat dengan rambut dan rambut itu sangat panjang, maka dipanggillah masoro karena dugaan raja tidak ada lain orang yang mempunyai rambut panjang di lasi muda selain dia. Setelah masoro dipanggil keistana, masoro tetap tidak mengakuinya. Namun hanya ada satu cara untuk dapat membuat masoro mengakui bahwa dia yang mencuri buah durian dari kebun istana raja yaitu mengukur panjang rambut yang diikat di buah durian dengan panjang rambut yang masoro punyai. Setelah diukur ternyata sama, masoro tidak dapat berbuat apa-apa, segera perintah raja untuk menghukum masoro dengan hukuman dibunuh atau memakan buah durian itu. Akhirnya masoro memilih untuk memakan buah durian tersebut dengan syarat harus disediakan tikar dan kelambu, karena masoro ingin memakan buah durian itu didalam kelambu karena ia malu dilihat penduduk lasi muda. Setelah semua dipersiapkan masoro pun masuk kedalam kelambu, didalam kelambu bukannya memakan buah durian tersebut, melainkan setiap butir biji durian ia gosok ke tikar yang tebal itu. Setiap prajurit bertanya apakah ia sudah memakan buah durian tersebut, maka masoro menjawab dengan perkataaan “HUAN DADAYUEN” artinya belum selesai ia memakan buah tersebut. Berawal dari cerita inilah terjadi perubahan nama kampung lasi muda menjadi nama DAYU atau yang kita kenal sekarang desa Dayu kecamatan Karusen Janang kabupaten Barito Timur.

Disusun oleh : Wahyu Hadrianto, S.Th