Sabtu, 19 Januari 2013

Orang Yang Hoby Pamainan disebut KAKI


Orang Yang Hoby Pamainan disebut KAKI
Pada masa pemerintahan Raja Datu Tataran Wulan, Miharaja Pipangkat Amas atau Amah Jarang dikerajaan Nansarunai sekitar tahun 1348 – 1358, berdasarkan kesepakatan bersama masyarakat kerajaan Nansarunai akan melaksanakan upacara Ijambe kepada tokoh Dayak ma’anyan yang sangat dihormati di kerajaan Nansarunai yang bernama Dato Burungan, yaitu tokoh suku Dayak Ma’anyan saat pengembaraan masyarakat Dayak Maanyan dari Watang Helang Ranu, Tane Ngagang Wunrung menuju Tane Sarunai, Taliku Ngamang Talam. Maka dipanggilah Seluruh masyarakat kerajaan Nansarunai beserta anak-anak, cucu-cucu, cicit-cicit serta seluruh keturunan Dato Burungan baik yang ada dikerajaan Nansarunai maupun berada diwilayah lain diminta datang ke kerajaan Nansarunai. Salah satunya tokoh Dayak Ma’anyan yang diundang bernama MANTIR KAKI yang tinggal di Gunung Pikabuan Nyawung, Puhaluan Nansaramai anak dari Damung Puntara Hala Maleh, Miharaja Kabeh Lalan anrau yang menikah dengan Dara Pangsung Kasa Sura Ibu Turus Riwut, mereka mempunyai dua orang anak yaitu Mantir Kaki merupakan putra sulung dan adik Mantir Kaki bernama Ratu Nguluh Langit.
Seluruh keluarga besar kerajaan Nansarunai pun berkumpul untuk menyusun seluruh rencana pelaksanaan upacara adat Ijambe ini, Mantir Kaki menyampaikan sebuah ide untuk meramaikan pelaksanaan adat Ijambe ini, yaitu sebuah permainan yang biasa mereka laksanakan di Gunung Pikabuan Nyawung, puhaluan nansaramai yaitu acara ”PAMAINAN”. Pamainan ini terbagi dari dua pamainan yaitu pamaninan dadu gurak dan pamainan nyawung (mengadu ayam), pamainan dadu gurak dibuat di sebuah tempat khusus, sedangkan pamainan nyawung dilaksanakan didalam sebuah arena yang dinamakan manguntur, maka berembuklah seluruh keluarga besar kerajaan Nansarunai untuk mempertimbangkan Ide dari Mantir Kaki ini, setelah berembuk, maka disetujuilah oleh seluruh keluarga besar di kerajaan Nansarunai bahwa dalam pelaksanaan upacara adat Ijambe untuk Datu Borongan ini dilaksanakan pula acara Pamainan.
Setelah semua perlengkapan pelaksanaan adat Ijambe sudah siap, dimulailah membersihkan tempat mendirikan balai, dimana tempat yang ditunjuk untuk mendirikan balai yaitu di tane sarunai, taliku ngamang talam, membersihkan tempat mendirikan balai ini dilakukan sampai sembilan kali, sampai bersih sebersih-bersihnya. Setelah sudah bersih seperti yang di tuturkan wadian pangunraun ”kala buka payung kuda langun”, maka mulailah mendirikan sebuah balai tempat melaksanakan adat Ijambe kepada Dato Burungan dan kemudian balai ini dinamakan Balai Jatuh Kabilawang Jaro Riwu Katulagarampan (Jatuh = seratus, Kabilawang = pintu), serta dibuat pula dua tangga di balai, tangga pertama sebanyak tujuh anak tangga menuju kuburan dan papuyan (tempat pembakaran tulang) dan tangga kedua sebanyak lima anak tangga menuju manguntur tempat pamainan nyawung dan pamainan dadu gurak dilaksanakan. Setelah pelaksanaan adat Ijambe ini dilaksanakan di kerajaan Nansarunai, begitu banyak orang datang dari segala penjuru wilayah untuk ikut dalam pelaksanaan adat Ijambe, selain datang untuk membantu pelaksanaan adat Ijambe, mereka juga datang menuju manguntur untuk pamainan nyawung dan pamainan dadu gurak. Karena begitu ramainya orang datang untuk nyawung di manguntur dan pamainan dadu gurak serta ikut ambil bagian dalam pelaksanaan adat Ijambe kepada Dato Burungan. Bergembiralah seluruh keluarga besar kerajaan Nansarunai, masyarakat  kerajaan Nansarunai dan semua orang yang datang menghadiri acara adat Ijambe ini, terlebih kegembiraan yang sangat luar biasa dirasakan kepada seluruh keluarga besar dari keturunan Dato Burungan karena pelaksanaan adat Ijambe ini dapat dilaksanakan sesuai dengan perintah yang dimuat di dalam adat dan hukum adat yang sudah diwariskan turun temurun dari leluhur suku dayak Maanyan kepada seluruh keturunan dayak Maanyan agar selalu dilaksanakan adat Ijambe kepada leluhur yang sudah meninggal (sekarang hanya dayak Maanyan Paju Epat yang tetap memegang adat Ijambe sebagai adat kematian). Selain peran seluruh keturunan Dato burungan, masyarakat kerajaan nansarunai serta semua tamu yang hadir dalam pelaksanaan adat Ijambe ini, peran Mantir Kaki sangat disanjung di seluruh pelosok negeri Nansarunai karena ide yang beliau berikan ternyata dapat membantu meramaikan pelaksanaan adat Ijambe kepada Datu Burungan. Maka mulai saat itulah seluruh orang yang pamainan nyawung di manguntur dan di tempat pamainan dadu gurak disebut dengan gelar ”KAKI” yang berasal dari nama Mantir Kaki, karena Mantir Kaki lah yang pertama kali membawa pamainan nyawung di manguntur  dan pamainan dadu gurak masuk didalam pelaksanaan adat Ijambe di kerajaan Nansarunai. Inilah acara adat Ijambe pertama di Tane Sarunai Taliku Ngamang Talam sekitar tahun 1348 – 1358. Hingga saat ini pamainan dadu gurak dan pamainan nyawung di manguntur menjadi tradisi yang terus menerus  ada ketika dilaksanakannya upacara adat di dalam adat suku dayak Ma’anyan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar