Kamis, 09 Juli 2015

Perang Buntok (Jilid 2)

PERANG BUNTOK (JILID II)
Sebagai sebuah desa, Buntok sudah mulai maju dan terkenal disenatero Kalimantan dengan pelabuhannya yang berada di tepi sungai barito, transaksi perdagangan serta gudang garam yang didirikan oleh Belanda yang berada di desa Buntok. Tersiarnya desa Buntok ini ke seantero Kalimantan membuat minat para pendatang dari semua kalangan untuk datang, terlebih para pedagang yang berdatangan ke desa Buntok untuk berdagang, desa Buntok yang kemudian menjadi sentral perdagangan mendapat restu pula dari penguasa Landscaap Sihong yaitu Sotaono Sutanegara untuk menjadi basis ekonomi kerakyatan dimana pada pennduduk asli yaitu orang maanyan juga ikut ambil bagian dalam kegiatan pedagangan di desa Buntok. Adapun yang dijual oleh orang Ma’anyan adalah dalam bentuk sayur—sayuran, buah-buahan, rempah-rempa, ikan, perahu (jukung : red) ada banyak lagi. Desa Buntok semakin maju pesat, dengan dukungan penguasa Landscaap Sihong, pedagang dari kerajaan Banjar dan Belanda. Bisnis yang didirikan oleh Belanda didesa Buntok adalah Belanda mendirikan gudang garam, peluang bisnis garam  yang akhirnya membawa desa Buntok mencapai kejayaan dalam usaha perdagangan. Dengan semakin majunya desa Buntok, masyarakat dari berbagai wilayah berdatangan dan mulai menetap di desa Buntok. Hal inilah yang kemudian menjadi masalah yang tak terelakan. Pendatang ingin menguasai desa Buntok dan menyingkirkan penduduk asli, sangat mudah bagi pendatang untuk menyingkirkan penduduk pribumi ini,, sedikit demi sedikit penduduk asli mulai tersingkir kepedalaman, namun ada beberapa yang diam-diam mempertahankan tanah leluhur. Pendatang semakin hari semakin berdatangan, terlebih ketika sentimen kulit putih mulai merambah hingga kepedalaman Kalimantan, Dohong yang menjadi pemimpin desa Buntok ikut berperang untuk mengusir Belanda agar perang Banjar tidak berdampak dan mengganggu kehidupan di tanah Buntok khususnya serta diseluruh wilayah tanah ma’anyan dan sepanjang sungai barito, serta perang banjar yang dipimpin oleh pangeran antasari semakin menunjukan perlawanan yang tidak main-main terhadap Belanda. Dengan pecahnya perang Banjar, masyarakat Banjar mulai lari mencari perlindungan kepedalaman Kalimantan, yang pada saat itu desa Buntok yang menjadi tempat sentral pelabuhan yang dengan mudah sampai dengan kapal dari Banjar. Penguasa Landscaap Sihong menerima para pengungsi dari kerajaan Banjar dan sempat menolong Pangeran Antasari ketika usaha penangkapan oleh Belanda yang dianggap pemberontak, hal ini juga menjadi hal yang dilematis bagi Landscaap Sihong. Namun, berkat pertolongan dari Landscaap Sihong pengungsi dari kerajaan Banjar beserta seluruh keturunan kerajaan dapat diselamatkan dan diungsikan, para keturunan kerajaan yaitu keturunan Gusti ini yang kemudian dipersilahkan menentukan tempat yang ingin mereka pilih untuk hidup, karena untuk kembali ke kerajaan Banjar sudah tidak mungkin lagi, karena kerajaan Banjar sudah luluh lantah, hancur lebur dan rata dengan tanah, serta kerajaan Banjar hanya tinggal kenangan karena sudah hilang untuk selama-lamanya.
Setelah tujuh tahun perang yang mengerikan, dengan kehancuran dan pengorbanan nyawa yang tidak sedikit, akhirnya tanah Kalimantan mulai damai, walaupun ada beberapa geriliya yang dipimpin oleh anak dari pangeran Antasari yakni Sultan Muhamad Seman beserta gerakan Beratib Beramal tetap menjadi basis perlawanan penduduk Banjar untuk membalaskan kehancuran kerajaan Banjar oleh Belanda. Para pengungsi dari kerajaan Banjar di Landscaap Sihong pun sudah hidup aman dan nyaman dan menetap ditempat baru serta membangun kehidupan yang baru. Begitu pula di desa Buntok usaha perdagangan mulai terlihat, namun gudang garam milik Belanda ditinggalkan begitu saja tanpa ada yang mengurus. Dengan melihat peluang itu seorang keturunan kerajaan banjar yakni Gusti Jamu serta dibantu oleh Anang Ngali dan Alimunuk ingin menguasai gudang garam itu dan mendirikan perkampungan di seberang desa Buntok. Gusti Jamu, Anang Ngali dan Alimunuk sangat terkenal dengan kesaktiannya, hal itu membuat penduduk asli desa Buntok ketakutan ditambah lagi pemimpin desa Buntok yakni Dohong tidak ada kabar lagi setelah ikut berperang selama kurang lebih tujuh tahun. Ada beberapa yang mengungsi, ada juga yang bertahan dengan niat mempertahankan tanah leluhur, ada beberapa pula yang pergi untuk meminta bantuan ke penguasa Landscaap Sihong.
Setelah menerima laporan dari penduduk desa Buntok, penguasa Landscaap Sihong menolak untuk berperang, Sota Ono menganggap para penduduk kerajaan Banjar beserta para keturunan kerajaan dari kerajaan Banjar adalah saudara serta persaudaraan itu sudah terjalin saat adanya kesepakatan damai antara raja Banjar dengan masyarakat Buntok yang dipimpin oleh Dohong,  bahkan persaudaraan itu sebenarnya sudah ada sejak ratusan tahun silam oleh nenek moyang dari kerajaan Naansarunai. Hal ini dapat dilihat dari adanya balai Hakei yang ada di samping balai Ijambe Paju Epat. Rasa simpati penguasa Landscaap Sihong itu juga muncul akibat kehancuran dari kerajaan Banjar ketika terjadi perang Banjar  yang mengakibatkan penderitaan yang sangat luar biasa kepada seluruh penduduk dan keturunan kerajaan yang memaksa mereka untuk mengungsi bahkan lari untuk menyelamatkan diri serta berjuang antara hidup dan mati untuk mencari tempat baru untuk hidup baru yang lebih aman, tentram dan sejahtera, serta melupakan untuk pulang kembali ke kerajaan Banjar yang sudah hancur rata dengan tanah. Namun, hal ini malah membuat gempar di desa Buntok, ketakutan yang dirasakan penduduk desa Buntok semakin menjadi, ketika dikabarkan penguasa Landscaap Sihong yaitu Sota Ono tidak ingin berperang untuk mengusir Gusti Jamu, Anang Ngali dan Alimunuk beserta seluruh penduduk yang sudah membangun perkampungan diseberang desa Buntok dan sudah menguasai gudang garam Belanda di Buntok. Beberapa perkiraan atau kabar burung yang tersiar di desa Buntok, bahwa Sota Ono yang juga sebagai penguasa Landscaap Sihong tidak berani berperang untuk mengusir Gusti Jamu, Anang ngali dan Alimunuk karena Gusti Jamu, Anang ngali dan Alimunuk sangat sakti mandraguna, bahkan dengan kesaktian mereka, dapat diperkirakan mampu menaklukan bukan hanya Buntok tetapi mampu menaklukan Landscaap Sihong bahkan seluruh tanah Ma’anyan. Suasana di desa Buntok sangat mencekam, hampir semua penduduk desa Buntok pergi mengungsi untuk menyelamatkan diri ke desa—desa yang berdekatan dengan Buntok dan berlindung sampai ada respon dari penguasa Landscaap Sihong untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di desa Buntok. Hampir setiap hari gelombang pengungsi dari desa Buntok semakin bertambah, hal ini membuat Gusti Jamu, Anang ngali dan Alimunuk semakin meraja lela dan berambisi untuk menguasai desa Buntok.
Penguasa landscaap Sihong pun memanggil para Tetua-tetua kampung, semua Damang, semua Mantir, semua Panghulu, semua Wadian, semua Pangkalima, semua Damung, serta seluruh petinggi kampung dari seluruh wilayah kedemangan Kampung Sepuluh, kedemangan Banua Lima, kedamungan dayu dan kedemangan Paju Epat datang ke Landscaap sihong untuk memecahkan persoalan yang terjadi di desa Buntok. Dan oleh Sota Ono diberikan catatan yakni melawan Gusti Jamu, Anang ngali dan Alimunuk tanpa berperang. Dari hasil musyawarah itu maka dipilihlah tiga orang yang dianggap mampu untuk ditugaskan menyelesaikan masalah yang terjadi di desa Buntok. Mereka adalah Damung Mayan penguasa dari kedamungan Dayu,  Pa’angkin dari Tamiang dan Mapangpus dari Ja’ar Sangarasi. Dengan cepat kabar gembira itu sampai ditelinga penduduk desa Buntok baik yang masih menetap di Buntok serta yang ada di pengungsian, para penduduk desa Buntok pun bersiap, para pemuda yang siap untuk berperang dan para kasatria dari desa Buntok berdatangan dari tempat pengungsian dibantu para kasatria dari desa-desa yang ada di sekitar desa Buntok bahkan dari seluruh tanah ma’anyan, dengan segala perlengkapan perang, mandau (ambang), tombak dan perahu (weta) yang sudah dipersiapkan di tepian sungai barito untuk menyeberang berperang melawan Gusti Jamu, Anang Ngali dan Alimunuk. Tersiar pula di kampung seberang bahwa penduduk desa Buntok siap untuk menyeberang dan berperang, persiapan perang pun dipersiapkan semaksimal mungkin oleh penduduk seberang desa Buntok.

Datanglah tiga utusan dari Landscaap Sihong, yang diutus untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di desa Buntok. Sorak-sorai penduduk desa Buntok melihat tiga pangkalima ini datang, namun dengan tegas ketiga pangkalima ini memerintahkan kepada semua penduduk desa Buntok beserta seluruh kasatria Ma’anyan untuk menyimpan kembali semua peralatan perang baik mandau (ambang : red), tombak dan perahu (weta : red), biarlah mereka bertiga sendiri yang menyelesaikannya, seluruh penduduk Buntok kebingungan mendengar perintah dari ketiga pangkalima utusan Landscaap Sihong itu. Yang sangat mengherankan ketiga pangkalima ini memerintahkan agar perahu (weta : red) ikut disimpan,  dan mereka dapat menyeberang dengan cara mereka sendiri. Teriakan perang terdengar dari seberang desa Buntok, bersahut-sahutan seolah-olah sangat haus darah. Setelah menyuruh seluruh penduduk desa Buntok menyimpan kembali semua peralatan perang, ketiga pangkalima ini turun ke sungai barito dan mulai menginjak air barito, semua penduduk desa Buntok, seluruh kasatria Ma’anyan dan penduduk yang ada diseberang desa Buntok sangat terkejut dan ketakutan ketika melihat ketiga pangkalima itu berjalan diatas air, mereka bertiga berjalan diatas air sungai barito,berjalan menuju seberang desa Buntok untuk bertemu dengan penduduk seberang yang dipimpin oleh Gusti Jamu, Anang ngali dan Alimunuk. Melihat kesaktian yang sangat tidak masuk  akal dan kesaktian itu mungkin hanya dimiliki oleh para dewa saja, maka seketika tersentak dan terkejutlah Gusti Jamu, Anang Ngali dan Alimunuk dan seluruh penduduk seberang.  Gusti Jamu, Anang Ngali dan Alimunuk dan seluruh penduduk seberang langsung menjatuhkan senjata dan tunduk untuk menghormati kedatangan ketiga pangkalima utusan Landscaap Sihong itu. Damung Mayan,  Pa’angkin dan Mapangpus kemudian sampai di desa seberang dan disambut dengan hormat, ketiga pangkalima ini pun mengutarakan maksud dan tujuan mereka bertiga datang mengunjungi Buntok karena dikabarkan ada masalah, serta menyampaikan pesan dari penguasa Lanscaap Sihong agar Gusti Jamu, Anang Ngali dan Alimunuk menghentikan pertikaian yang ada didesa Buntok yang kemudian menimbulkan keresahan dan ketakutan di tanah ma’anyan serta meminta agar jangan ada lagi peperangan hingga pertumpahan darah karena Ma’anyan dan Banjar adalah satu, satu leluhur dan satu nenek moyang sama-sama keturunan dari kerajaan Nansarunai. Terlebih lagi di tanah Kalimantan tepatnya di kerajaan Banjar beberapa waktu lalu telah terjadi peperangan yang luar biasa dasyat yang menghancurkan seluruh kejayaan kerajaan Banjar dan menelan korban yang tidak lah sedikit, yang pada akhirnya melenyapkan kerajaan Banjar untuk selama-lamanya. Ketiga pangkalima ini pun menyampaikan pesan dari penguasa Landscaap Sihong, yang meminta dengan hormat kepada Gusti Jamu, Anang Ngali dan Alimunuk  untuk mencari tempat lain yang ada di wilayah Landscaap Sihong, dimanapun untuk dijadikan tempat tinggal baru, agar tidak ada lagi masalah di desa Buntok dan semua dapat hidup dengan damai, tentram dan sejahtera. Gusti Jamu, Anang Ngali dan Alimunuk beserta seluruh penduduk bersedia dan siap untuk pindah dari kampung seberang desa Buntok dan mencari tempat lain yang ada di wilayah Landscaap Sihong untuk menjadi tempat tinggal mereka yang baru serta dapat hidup dengan damai dan sejahtera, serta Gusti Jamu, Anang Ngali dan Alimunuk beserta seluruh penduduk yang dipimpin oleh Gusti Jamu meminta maaf atas semua apa yang mereka lakukan terhadap masyarakat desa Buntok, seluruh masyarakat Ma’anyan dan penguasa Landscaap Sihong, serta berterima kasih kepada seluruh masyarakat Ma’anyan dan penguasa Landscaap Sihong karena masih menerima mereka sebagai saudara dan mengijinkan mereka untuk tetap tinggal di wilayah tanah ma’aanyan. Desa Buntok pun kembali damai, hingga sampai  saat ini diseberang sungai barito kota Buntok kabupaten Barito Selatan hanya tanah kosong tak berpenghuni yang ditumbuhi pepohonan lebat. Konon, Damung Mayan setelah meninggal dunia kemudian beliau berubah menjadi naga dan tinggal di bawah jembatan pulau amie berdekatan dengan rumah Abeh desa Dayu kabupaten Barito Timur, beliau menjadi Nanyu bersama dengan Abeh menjadi penjaga kedamungan Dayu untuk selama-lamanya. Inilah kisah yang dapat saya tulis, kisah yang diceritakan oleh kakek saya Alm. Yurmansah Dohong. Semoga dari kisah ini menjadi inspirasi kepada kita semua bahwa damai itu indah. Terima kasih       

Sabtu, 19 Januari 2013

Orang Yang Hoby Pamainan disebut KAKI


Orang Yang Hoby Pamainan disebut KAKI
Pada masa pemerintahan Raja Datu Tataran Wulan, Miharaja Pipangkat Amas atau Amah Jarang dikerajaan Nansarunai sekitar tahun 1348 – 1358, berdasarkan kesepakatan bersama masyarakat kerajaan Nansarunai akan melaksanakan upacara Ijambe kepada tokoh Dayak ma’anyan yang sangat dihormati di kerajaan Nansarunai yang bernama Dato Burungan, yaitu tokoh suku Dayak Ma’anyan saat pengembaraan masyarakat Dayak Maanyan dari Watang Helang Ranu, Tane Ngagang Wunrung menuju Tane Sarunai, Taliku Ngamang Talam. Maka dipanggilah Seluruh masyarakat kerajaan Nansarunai beserta anak-anak, cucu-cucu, cicit-cicit serta seluruh keturunan Dato Burungan baik yang ada dikerajaan Nansarunai maupun berada diwilayah lain diminta datang ke kerajaan Nansarunai. Salah satunya tokoh Dayak Ma’anyan yang diundang bernama MANTIR KAKI yang tinggal di Gunung Pikabuan Nyawung, Puhaluan Nansaramai anak dari Damung Puntara Hala Maleh, Miharaja Kabeh Lalan anrau yang menikah dengan Dara Pangsung Kasa Sura Ibu Turus Riwut, mereka mempunyai dua orang anak yaitu Mantir Kaki merupakan putra sulung dan adik Mantir Kaki bernama Ratu Nguluh Langit.
Seluruh keluarga besar kerajaan Nansarunai pun berkumpul untuk menyusun seluruh rencana pelaksanaan upacara adat Ijambe ini, Mantir Kaki menyampaikan sebuah ide untuk meramaikan pelaksanaan adat Ijambe ini, yaitu sebuah permainan yang biasa mereka laksanakan di Gunung Pikabuan Nyawung, puhaluan nansaramai yaitu acara ”PAMAINAN”. Pamainan ini terbagi dari dua pamainan yaitu pamaninan dadu gurak dan pamainan nyawung (mengadu ayam), pamainan dadu gurak dibuat di sebuah tempat khusus, sedangkan pamainan nyawung dilaksanakan didalam sebuah arena yang dinamakan manguntur, maka berembuklah seluruh keluarga besar kerajaan Nansarunai untuk mempertimbangkan Ide dari Mantir Kaki ini, setelah berembuk, maka disetujuilah oleh seluruh keluarga besar di kerajaan Nansarunai bahwa dalam pelaksanaan upacara adat Ijambe untuk Datu Borongan ini dilaksanakan pula acara Pamainan.
Setelah semua perlengkapan pelaksanaan adat Ijambe sudah siap, dimulailah membersihkan tempat mendirikan balai, dimana tempat yang ditunjuk untuk mendirikan balai yaitu di tane sarunai, taliku ngamang talam, membersihkan tempat mendirikan balai ini dilakukan sampai sembilan kali, sampai bersih sebersih-bersihnya. Setelah sudah bersih seperti yang di tuturkan wadian pangunraun ”kala buka payung kuda langun”, maka mulailah mendirikan sebuah balai tempat melaksanakan adat Ijambe kepada Dato Burungan dan kemudian balai ini dinamakan Balai Jatuh Kabilawang Jaro Riwu Katulagarampan (Jatuh = seratus, Kabilawang = pintu), serta dibuat pula dua tangga di balai, tangga pertama sebanyak tujuh anak tangga menuju kuburan dan papuyan (tempat pembakaran tulang) dan tangga kedua sebanyak lima anak tangga menuju manguntur tempat pamainan nyawung dan pamainan dadu gurak dilaksanakan. Setelah pelaksanaan adat Ijambe ini dilaksanakan di kerajaan Nansarunai, begitu banyak orang datang dari segala penjuru wilayah untuk ikut dalam pelaksanaan adat Ijambe, selain datang untuk membantu pelaksanaan adat Ijambe, mereka juga datang menuju manguntur untuk pamainan nyawung dan pamainan dadu gurak. Karena begitu ramainya orang datang untuk nyawung di manguntur dan pamainan dadu gurak serta ikut ambil bagian dalam pelaksanaan adat Ijambe kepada Dato Burungan. Bergembiralah seluruh keluarga besar kerajaan Nansarunai, masyarakat  kerajaan Nansarunai dan semua orang yang datang menghadiri acara adat Ijambe ini, terlebih kegembiraan yang sangat luar biasa dirasakan kepada seluruh keluarga besar dari keturunan Dato Burungan karena pelaksanaan adat Ijambe ini dapat dilaksanakan sesuai dengan perintah yang dimuat di dalam adat dan hukum adat yang sudah diwariskan turun temurun dari leluhur suku dayak Maanyan kepada seluruh keturunan dayak Maanyan agar selalu dilaksanakan adat Ijambe kepada leluhur yang sudah meninggal (sekarang hanya dayak Maanyan Paju Epat yang tetap memegang adat Ijambe sebagai adat kematian). Selain peran seluruh keturunan Dato burungan, masyarakat kerajaan nansarunai serta semua tamu yang hadir dalam pelaksanaan adat Ijambe ini, peran Mantir Kaki sangat disanjung di seluruh pelosok negeri Nansarunai karena ide yang beliau berikan ternyata dapat membantu meramaikan pelaksanaan adat Ijambe kepada Datu Burungan. Maka mulai saat itulah seluruh orang yang pamainan nyawung di manguntur dan di tempat pamainan dadu gurak disebut dengan gelar ”KAKI” yang berasal dari nama Mantir Kaki, karena Mantir Kaki lah yang pertama kali membawa pamainan nyawung di manguntur  dan pamainan dadu gurak masuk didalam pelaksanaan adat Ijambe di kerajaan Nansarunai. Inilah acara adat Ijambe pertama di Tane Sarunai Taliku Ngamang Talam sekitar tahun 1348 – 1358. Hingga saat ini pamainan dadu gurak dan pamainan nyawung di manguntur menjadi tradisi yang terus menerus  ada ketika dilaksanakannya upacara adat di dalam adat suku dayak Ma’anyan.


Minggu, 25 Maret 2012

SILAT KUNTAO BETAWI LIAR


SILAT KUNTAO BETAWI LIAR
Silat Kuntao betawi liar adalah salah satu aliran seni bela diri pencak silat tradisional Dayak warisan dari nenek moyang suku Dayak. Silat kuntao betawi liar ini mempunyai keunikan sama seperti seni bela diri lainnya seperti taekwondo, karate, tarung derajat, kungfu dst. Dijaman sekarang ini keberadaan para pendekar silat kuntao betawi liar sangat sulit ditemukan, karena keberadaan seni bela diri silat kuntao betawi liar ini sangat di dirahasiakan oleh para keturunannya yang mewarisi tehnik bela diri ini, berlatihnya pun harus ditengah hutan dan pada malam hari. Karena sifatnya rahasia, maka banyak cerita tentang silat kuntao betawi liar ini, namun melihat perkembangannya, silat kuntao betawi liar semakin hari, semakin menghilang. Dengan munculnya para pecinta pencak silat yang kemudian mem-film-kan pencak silat kepermukaan seperti Merantau dan The Raid mengingatkan kita semua terhadap seni bela diri pencak silat warisan leluhur suku Dayak yang saat sekarang ini hampir punah.
Langkah-langkah dan bungaan dari silat kuntao betawi liar :
     • Langkah dan bungaan bertahan :
1.      Langkah 4 dasar
2.      Langkah 4 buang pasir
3.      Langkah 4 tendang kuda
4.      Langkah 4 setumbuk
    • Langkah dan bungaan menyerang :
1.      Langkah 5 dasar
2.      Langkah 5 sabongkar
3.      Langkah 5 buang pasir
4.      Langkah 5 gancu
5.      Langkah 5 boksai
   •Langkah dan bungaan lari
1.      Langkah 6 dasar
2.      Langkah 6 buang pasir
3.      Langkah 6 blok B (langkah 6 boksai)
Senjata – senjata dalam silat kuntao betawi liar
1.      Cabang
2.      Toya (tongkat)
Belajar silat kuntao betawi liar
Dalam belajar seni bela diri silat kuntao betawi liar ada empat babak ujian yang harus ditempuh para murid untuk selanjutnya menjadi rintangan dan ujian-ujian yang harus dilewati para murid silat kuntao betawi liar :
1.      Belajar langkah dan bungaan
Pada tahap ini para murid belajar langkah dan bungaan yang terbagi dalam beberapa langkah, yaitu :
a.       Langkah dan bungaan bertahan
Yaitu langkah untuk menangkis dan menahan musuh saat musuh menyerang, maka dibutuhkan kuda-kuda kaki yang kuat, tendangan kaki yang kuat seperti tendangan kuda dan pukulan tangan yang cepat dan kuat seperti menumbuk yang diarahkan kepada musuh.
b.      Langkah dan bungaan menyerang
Yaitu langkah yang digunakan untuk menyerang musuh, maka dibutuhkan kecepatan dan ketepatan sasaran pukulan kepada musuh, serta menyerang pada titik vital musuh seperti filosofi kuntao “musuh akan memulai, kami sudah mengakhiri”
c.       Langkah dan bungaan lari
Langkah ini digunakan ketika diperkirakan akan kalah, ketika musuh menyerang bertubi-tubi maka dengan langkah ini dapat lari dari keadaaan yang memungkinkan untuk kalah, maka dibutuhkan tangkisan tangan yang cepat, loncatan dan kegesitan untuk menghindar.
2.      Jurusan dan pukulan
Pada tahap ini khusus belajar bagaimana menggunakan tangan dan kaki untuk bertarung dengan musuh :
a.       Tamparan (gentusan dan setumbuk)
b.      Tendangan (sempa)
3.      Tangkisan dan kuncian
Pada tahap ini khusus belajar bagaimana cara menagkis pukulan-pukulan dari lawan, maka dibutuhkan kecepatan, kegesitan dan kekuatan tangan dan kaki untuk mengakis semua serangan baik tamparan dan tendangan dari musuh. Selain belajar cara menangkis, pada tahap ini diajarkan juga cara mengunci lawan, sehingga memungkinkan lawan menyerah tanpa harus membalas pukulan dengan pukulan.
4.      Batamat
Pada tahap batamat merupakan masa akhir dari seluruh pelajaran yang sudah dipelajari. Pada tahap ini seluruh murid harus dapat mempraktekkan kembali seluruh langkah dan bungaan, jurusan dan pukulan, tangkisan dan kuncian, ujian yang paling berat adalah bertarung melawan guru dan akhir dari seluruh ujian batamat adalah mengambil sejenis kue yang didekatnya dihidupkan lilin kecil, pada tahap ini murid memilih langkah dan bungaan apa yang dipakai untuk mengambil kue itu dengan syarat lampu lilin jangan sampai mati dengan maksud melatih para murid untuk melakukan langkah dan bungaan degan halus dan lembut, karena jikalau mati maka itu pertanda bahwa didalam diri si murid itu masih terdapat rasa benci, dendam dan kemurkaan yang pada akhirnya membawa kepada kematian yang mengerikan (mati berdarah)
Ini tahap-tahap belajar silat kuntao betawi liar, ketika para murid tamat serta dianggap mampu untuk bertarung dalam situasi apapun dan siap menjadi pendekar yang akan menjaga serta membela bangsa dan negara. Pada tahap inilah para murid menemukan ujian yang sebenarnya. “Memangku sesuatu yang besar maka memerlukan pertanggungjawaban yang besar pula”. Semoga kita semakin mencintai budaya warisan leluhur kita agar tidak hilang ditelan jaman.

Disusun Oleh : Wahyu Hadrianto, S.Th

Rabu, 21 Maret 2012

PERANG BUNTOK (Jilid 1)


PERANG BUNTOK JILID 1
Pada zaman pemerintahan kesultanan Banjar, wilayah Paju Epat mulai memecahkan diri dan mulai mencari wilayah baru, salah satu rombongan masyarakat Maanyan Paju Epat pergi kearah DAS (Daerah Aliran Sungai) barito, serta membentuk perkampungan baru yang diberi nama "BUNTOK". Wilayah Buntok berdampingan langsung berbagai suku Dayak lainnya yaitu Bakumpai, Biaju, Dusun dst. Kemudian seiring perjalanan, kampung Buntok semakin maju karena Kampung buntok merupakan sentral pelabuhan para pedagang yang datang dari berbagai daerah.
Tersiarlah kabar  sampai ke Kerajaan Banjar tentang kampung Buntok. Karena ambisi pihak Kerajaan Banjar untuk memperluas wilayah kekuasaannya atau paling tidak ingin mempertahankan eksistensi mereka sebagai penguasa. Maka diperintahkan oleh kesultanan Banjar untuk menjadikan kampung Buntok menjadi bagian dari Kerajaan Banjar (serta mengislamkan Buntok) di tanah Maanyan. Namun masyarakat Maanyan di kampung Buntok menolak, akibat dari penolakan dari masyarakat Maanyan di kampung Buntok, maka diperintahkan oleh kesultanan Banjar untuk memaksa dengan mengerahkan pasukan kerajaan Banjar salah satu panglima perang bernama BALANAI HIRANG dibantu para GUSTI (keturunan Surya Nata yang sakti) untuk menyerang dan menghancurkan kampong Buntok.
Bala prajurit kerajaan Banjar datang melalui DAS barito, menyerbu membabi buta dari segala penjuru, perang pun tak bisa dihindari lagi. Saat perang berkecamuk, di kampung Buntok muncul seseorang bernama DOHONG, ia bergerak memimpin masyarakat Maanyan di kampung Buntok berperang melawan para prajurit kerajaan Banjar agar dapat mempertahankan kampung Buntok sebagai daerah Maanyan.  Perang pun berkecamuk, teriakan perang pun terdengar dimana-mana, bala bantuan dari seluruh masyarakat Maanyan dan Kerajaan Siong berdatangan, perang Buntok akhirnya dimenangkan oleh pihak Maanyan dibawah kepemimpinan DOHONG dan memukul mundur para prajurit kerajaan Banjar.
Sampailah berita di Kerajaan Banjar bahwa prajurit kerajaan Banjar dibawah kepemimpinan Balanai Hirang telah kalah dalam perang di kampung Buntok, dilaporkan bahwa persatuan masyarakat Maanyan sangat erat, bala bantuan yang berdatangan dari segala penjuru daerah Maanyan serta bahu membahu berperang mengusir prajurit kerajaan Banjar dari tanah Buntok. Dengan melihat keadaan seperti itu maka pihak Kerajaan Banjar kemudian membatalkan seluruh rencana untuk membumi hanguskan kampung Buntok, serta untuk selama-lamanya pihak kerajaan banjar tidak lagi menyerang kampung buntok dan berdamai dengan seluruh masyarakat Maanyan khususnya masyarakat Maanyan di kampung Buntok, peristiwa ini dikenal oleh kalangan masyarakat Maanyan dengan nama "PERANG BUNTOK", karena kejadian perang Buntok ini kampung Buntok menjadi salah satu kampung Maanyan yang sangat disegani didaerah DAS barito, sehingga sampai sekarang Buntok masih menjadi daerah dan kampung orang Maanyan.
Ketika tersiar berita sampai ke daerah Maanyan bahwa telah terjadi perang besar didaerah Banjar antara kerajaan Banjar dan Belanda, ketika perang ini meluas hingga sampai kedaerah DAS barito yang berdampak buruk pada banyak segi kehidupan masyarakat Maanyan, DOHONG beserta para Pangkalima Maanyan serta dibantu seluruh masyarakat Maanyan ikut membantu para pasukan kerajaan Banjar dibawah kepemimpinan jendral perang kerajaan banjar yaitu PANGERAN ANTASARI untuk mengusir belanda dari tanah kalimantan. DOHONG adalah sosok pahlawan orang Maanyan yang hanya sedikit orang mengetahuinya, DOHONG adalah nama kecil sang pahlawan yang bisa dikenal oleh keturunannya, DOHONG adalah lambang pemersatu masyarakat Maanyan di daerah DAS barito. Konon nama beliau saat perang banjar berkecamuk bernama PANGKALIMA BATUR.
Top of Form
Bottom of Form

Disusun Oleh : Wahyu Hadrianto, S.Th
Sumber : Yurmansah Dohong, seorang tokoh masyarakat tinggal di Desa Kandris, Kecamatan Karusen Janang, Kabupaten Barito Timur

Sabtu, 10 Maret 2012

PERANG BUNTOK


PERANG BUNTOK
pada zaman pemerintahan kesultanan banjar, wilayah paju epat mulai memecahkan diri dan mulai mencari wilayah baru serta beradaptasi dengan suku lain di DAS barito (daya kisah juwung salelei atau juwung mapui) salah satu membentuk perkampungan dan memberi nama "BUNTOK". wilayah buntok berdmpingan anri berbagai suku dayak bakumpai, biaju, dusun dst. kemudian seiring perjalanan, buntok semakin maju tersiarlah kabar kekerajaan banjar tentang buntok. maka diperintahkan oleh kesultanan banjar untuk menjadikan buntok menjadi bagian kerajaan banjar (serta mengislamkan buntok) di tanah maanyan namun masyarakat maanyan di buntok menolak, maka diperintahkan untuk memaksa dengan mengerahkan pasukan kerajaan banjar salah satu panglima perang bernama balanai hirang dibantu para gusti.
Saat perang berkecamuk, dibuntok muncul seseorang bernama DOHONG, ia bergerak memimpin masyarakat maanyan berperang melawan para prajurit kerajaan banjar dan mempertahankan buntok sebagai daerah maanyan, setelah perang berkecamuk, perang buntok dimenangkan oleh pihak maanyan dibawah kepemimpinan DOHONG, seiring perjalanan waktu maka pihak kerajaan banjar tidak lagi menyerang kampung buntok dan berdamai dengan masrarakat maanyan, peristiwa ini dikenal oleh kalangan maanyan dengan nama "PERANG BUNTOK", karena kejadian perang buntok ini kampung buntok menjadi salah satu kampung maanyan yang disegani didaerah DAS barito, sehingga sampai sekarang buntok masih menjadi daerah dan kampung orang maanyann. konon ketika perang banjar berlangsung dan sampai kedaerah DAS barito DOHONG ikut dalam pertempuran mengusir belanda dari DAS barito. DOHONG adalah nama kecil yang bisa dikenal oleh keturunannya, konon nama beliau saat perang banjar berkecamuk bernama PANGKALIMA BATUR.
DOHONG ulun maanyan pertama sa mapas tane buntok, DOHONG pada sa pertama mapas tane BARTIM yakni Alm. Mahur Dohong, aq salah satu keturunan Dohong, daya teka kakahku sa Dohong/amah hingka ineh ku sa Pam Dohong, jari aq puang na anak hang wading ngaran ku pam Dohong tapi aq tetap keturunan Dohong. jari jika naan sa Pam Dohong hanye ru keturunan asli ulun Buntok.
Disusun Oleh : Wahyu Hadrianto, S.Th